Peneliti Senior INDEF Enny Sri Hartati menyebut klaim pemerintah bahwa angka kemiskinan per Maret 2018 sebesar 9,82 persen adalah yang terendah sejak 20 tahun, justru berbanding terbalik dengan tingkat daya beli rumah tangga yang semakin menurun.
"Dan secara logika ekonomi itu mestinya tidak mungkin. Jadi yang namanya masyarakat miskin menurun, harusnya daya beli masyarakat meningkat," kata Eni dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (20/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Artinya, masih di bawah benchmark minimal secara natural, yakni di 5 persen," ujarnya.
Pasalnya, sejak Maret 2017 hingga Maret 2018 jumlah penduduk miskin berkurang hingga 1,2 juta dibanding biasanya yang hanya 600 ribu-700 ribu per tahun.
Pada periode yang sama, Enny menuturkan pemerintah juga mengalokasikan anggaran bantuan sosial yang meningkat signifikan, sekitar 20 persen, termasuk anggaran pengentasan kemiskinan seperti dana desa dan Program Keluarga Harapan (PKH).
Karenanya, Enny sepakat bahwa penurunan kemiskinan bisa dibilang sebagai keberhasilan program pemerintah, namun hanya dalam konteks menurunkan statistik angka kemiskinan.
"Mengapa? Karena ketika bantuan-bantuan pemerintah ternasuk bansos digelontokan kepada masyarakat dan kemudian BPS hadir untuk mencatat, memang angka kemiskinan yang ada waktu pencatatan itu turun," kata Enny.
"Jadi, ketika pemerintah menyampaikan data tetapi data tidak dianalisis dengan komprehensif, maka kita akan terjebak dengan kinerja yang semu," lanjutnya. (res)