Politik Kutu Loncat TGB, dari Kader PBB Hingga Jadi 'Jokower'

Wishnugroho Akbar, CNN Indonesia | Rabu, 25/07/2018 08:58 WIB
Politik Kutu Loncat TGB, dari Kader PBB Hingga Jadi 'Jokower' TGB mengawali karier politiknya sebagai kader PBB, sebelum akhirnya merapat ke Demokrat dan kini memilih mendukung Jokowi di Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Politikus muda yang sedang bersinar itu bernama Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB). 'Kontroversi' adalah kata yang tak bisa lepas dari sosok berusia 46 tahun ini.

TGB jadi sorotan setelah panggung politik nasional dikejutkan dengan keputusannya mundur sebagai kader Partai Demokrat.

Beberapa hari sebelumnya, Rabu 4 Juli 2014, Gubernur Nusa Tenggara Barat ini membuat manuver yang tak kalah membetot perhatian. TGB yang saat itu masih berstatus kader Demokrat, secara tak terduga mendukung Presiden Joko Widodo memimpin dua periode.


Dukungannya mendahului keputusan partai yang sampai hari ini belum menentukan sikap politik.

Demokrat dan kubu oposisi terhenyak. Pun dengan massa pendukungnya yang kadung mengelu-elukan TGB sebagai calon pemimpin masa depan. Apalagi, saat Pilpres 2014 silam TGB menjadi salah satu tokoh yang merapat ke kubu Prabowo Subianto.

Sikap politik TGB yang kini mendukung Jokowi berpotensi menggerus sebagian massa Islam yang sempat mendukungnya.

Dalam politik, kehilangan basis massa pendukung merupakan hal krusial mengingat dukungan massa adalah salah satu pilar utama menunjang karier seorang politikus. Tetapi hal itu tampaknya tak berpengaruh pada TGB. Sejauh ini dia tetap konsisten mendukung Jokowi, alih-alih mencari pembenaran.

Pria kelahiran Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tengara Barat ini memang bukan politisi 'kemarin sore'. Dia termasuk sosok yang cerdas membaca peluang.

TGB meninggalkan Partai Bulan Bintang ketika Demokrat mengalami fase kejayaan. Tak lama setelah bergabung dengan Demokrat, TGB berhasil terpilih sebagai Ketua DPD Demokrat NTB.

Saat dilantik sebagai Ketua DPD, TGB masih berusia 39 tahun.

Pelantikannya menyulut kontroversi politik. Belasan kader Demokrat menggelar aksi membakar bendera partai di luar Hotel Lombok Raya tempat berlangsung pelantikan TGB. Mereka tak puas terhadap keputusan Musyawarah Daerah II yang secara aklamasi memilih eks kader Partai Bulan Bintang itu sebagai Ketua DPD Nusa Tenggara Barat.

Tapi tak butuh waktu lama bagi TGB untuk meredam ketidakpuasan sebagian kader Demokrat. Pada 2013, dia membuktikan kemampuannya menjaga basis dukungan dengan meraih kemenangan yang kedua kalinya di pemilihan gubernur dan wakil gubernur Nusa Tenggara Barat.

Politisi cum Ulama

Sosok TGB tak hanya dikenal sebagai politisi. Jauh sebelum menjadi politisi, publik terutama warga NTB telah mengenalnya sebagai seorang ulama. Gelar itu berdasarkan latar belakang pendidikannya.

TGB adalah doktor tafsir jebolan salah satu kampus ternama di dunia, Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Dia lulus pada 2011 dengan predikat summa cumlaude. Publik juga mengenalnya sebagai hafiz atau penghafal Alquran.

Dengan latar belakang pendidikan itu, tak heran bila TGB mendapat simpati cukup luas di kalangan massa oposisi Islam. Apalagi, dia sempat menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan, organisasi massa Islam terbesar di NTB.

Kini TGB telah menjadi pendukung Jokowi. Sang petahana pun telah membuka diri untuk memilih TGB sebagai calon wakil presidennya di Pilpres 2019. 

Terlepas dari sikap politiknya yang kontroversial itu, keputusan ini mengantarkan TGB ke tengah panggung politik nasional, sesuatu yang sebelumnya hanya bisa dia amati dari kejauhan.

(gil)


BACA JUGA