"Warga meninggal bernama Lusirue (50) pada 26 Juli 2018, menyusul balita Asoka berusia dua bulan, Aiyoma (empat bulan) dan Laupia (60)," ujar Kepala Dinas Sosial Maluku, Sartono Pinning, sebagaimana dilansir Antara, Sabtu (28/7).
Sartono menyatakan fakta itu diketahui berdasarkan laporan tim terpadu yang dikerahkan ke lokasi sejak 25 Juli lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim terpadu dari Kementerian Sosial (Kemensos), Dinas Sosial Maluku, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) Maluku, Dinas kesehatan, Kodam XVI/Pattimura, Polda Maluku dan Pemkab Maluku Tengah yang telah berada di lokasi menyatakan, korban meninggal karena kelaparan.
Dia mengemukakan, penanganan selanjutnya terhadap warga suku terasing tersebut tergantung hasil identifikasi tim terpadu di lapangan, termasuk masukan dari Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI Suko Pranoto didampingi Danrem 151/Binaiya, Kolonel Inf Christian K. Tehuteru yang meninjau pada 26 Juli 2018.
"Pastinya Pemprov Maluku maupun Pemkab Maluku Tengah menginginkan mereka direlokasi, karena telah diprogramkan setelah kebakaran hutan Seram secara besar - besaran pada 2015 dan 2017," ujarnya.
Lokasi titik kumpul terdekat menuju lokasi Suku Mausu Ane adalah di Kali Toahaku, dengan rute perjalanan dari Polsek Seram Utara melewati rumah singgah jalan dusun Soahari. (antara)