Respons PDIP atas Forum Ijtima Ulama soal Ganti Presiden

Abi Sarwanto, CNN Indonesia | Minggu, 29/07/2018 02:50 WIB
Respons PDIP atas Forum Ijtima Ulama soal Ganti Presiden Sekjen PDIP menyatakan di luar Forum Ijtima Ulama, Presiden petahana Jokowi dikenal memiliki hubungan baik pula dengan ulama, termasuk dengan kalangan MUI. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengatakan forum Ijtima Ulama yang menginginkan pergantian kepemimpinan pada pilpres 2019, hanya klaim sepihak.

Itu, disebutnya tak merangkum keingingan ulama-ulama se-Indonesia. Pasalnya, kata Hasto, tokoh-tokoh ulama memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

Salah satunya momen ketika Jokowi meletakkan pembangunan menara MUI bersama Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiai Maruf Amin.


"Sehingga kalau ada yang mengklaim untuk ganti Presiden, itu merupakan klaim secara sepihak," kata Hasto di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Sabtu (28/7).


Hasto mengklaim dukungan kepada Jokowi dari masyarakat akar rumput pun begitu kuat. Dia menilai keinginan ganti presiden oleh beberapa pihak, termasuk para ulama, hanya klaim semata.

"Jadi mereka-mereka yang mengklaim itu karena mereka khawatir terhadap dukungan Pak Jokowi yang begitu kuat tersebut," ujarnya.

Sebelumnya, Ijtima Ulama yang digelar Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama pada 27-29 Juli disebut akan merekomendasikan sejumlah tokoh untuk maju sebagai calon presiden maupun calon wakil presiden di Pemilu 2019.

Tokoh-tokoh yang akan didukung itu antara lain Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Ketua PAN Zulkifli Hasan dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri.

Ketua Umum GNPF sekaligus penanggung jawab acara Ijtima Ulama Yusuf Muhammad Martak mengatakan acara digelar sebagai wadah bagi para ulama untuk menyampaikan agar koalisi keumatan segera terbentuk. 

"Jadi konkretnya kita sih inginnya setelah koalisi mereka sudah bisa deklarasi paslon sebelum ijtima, tapi kalau sampai ijtima belum belum terealisasi, sudah ada koalisi keumatan dan kebangsaan," kata Yusuf.

(kid/kid)