"Kalau cuma dua orang calon itu ya sudah saya pilih yang sudah ada dan tidak mulai lagi dari awal. Biarkan (Jokowi) meneruskan progamnya cuma harus ada kontrol yang ketat," kata Kapitra dalam konferensi pers yang digelarnya di Hotel Bidakara, Minggu (29/7).
Kapitra menilai pembaruan sistem akan terjadi lagi apabila presiden diganti baru. Apalagi saat ini sedang terjadi masalah di sektor ekonomi seperti pelemahan rupiah, nilai barang yang semakin mahal dan lain sebagainya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditanya siapa cawapres yang cocok untuk Jokowi, Kapitra mengaku tak sempat memikirkannya. Dia mengaku sedang dalam keadaan patah hati Itjima mencalonkan Prabowo sebagai capres.
Pernyataan Kapitra tersebut menjurus pada hasil pertemuan Ijtima Ulama dan tokoh nasional yang berlangsung 27-29 Juli 2018. Ijtima Ulama telah merekomendasikan Prabowo Subianto sebagai calon presiden.
Ada dua skenario pasangan Prabowo. Opsi pertama, dia didampingi Ketua Majelis Syuro PKS Habib Salim Segaf Al Jufri; sementara pilihan kedua, ia disandingkan dengan ulama Abdul Somad.
Dua rekomendasi ini diklaim merupakan hasil diskusi langsung dengan Rizieq Shihab. Ijtima Ulama yang digelar GNPF mengundang lima partai politik, yakni Partai Gerindra, PKS, PAN, PBB dan Partai Berkarya.
Kapitra secara gamblang menyatakan tak sepakat dengan rekomendasi tersebut. Dia menganggap Rizieq sebagai Imam Besar seharusnya direkomendasikan sebagai capres.