"Posisi Pak Jokowi belum di posisi aman sehingga ini yang jadi partai-partai pendukung Pak Jokowi belum berani mengumumkan cawapres. Berbanding terbalik dengan SBY pada periode yang lalu yang umumkan cawapres satu bulan sebelum penutupan pendaftaran," ujar Wakil Sekjen Gerindra Andre Rosiade di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, (5/8).
Berdasarkan survei Roda Tiga Konsultan yang dilakukan pada 23 Juli sampai 1 Agustus 2018 terhadap 1610 responden, tingkat keterpilihan Jokowi sebesar 42,5 persen dan dan Prabowo mendapat 21,3 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan untuk head to head elektabilitas, Jokowi unggul dengan elektabilitas 51,6 persen dan Prabowo 30,8 persen.
Survei Roda Tiga Konsultan juga mencatat ada 42,7 responden setuju dengan gerakan ganti presiden 2019 dan 43,4 persen tidak setuju. Perbandingan yang terlihat tipis itu pun disebut Andre sebagai salah satu kepanikan Jokowi.
Andre mencontohkan salah satu contoh kepanikan kekuasaan Jokowi adalah saat Neno Warisman diadang di Batam ketika hendak menghadiri deklarasi gerakan #2019GantiPresiden.
Pada Sabtu (28/7), Neno Warisman dan rombongannya tak bisa keluar dari Bandara Hang Nadim karena diadang massa yang menolak deklarasi #2019GantiPresiden.
Neno yang mendarat di Batam sekitar pukul 17.00 WIB terpaksa bertahan di Bandara karena massa terus mengadangnya hingga lepas tengah malam.
"Tragedi Neno Warisman, ditahan di objek vital ini menunjukkan bahwa ada kesan kepanikan dari rezim. Pas acaranya besoknya bagaimana acara itu dibubarkan secara sepihak oleh kepolisian," tuturnya.
Dia pun mengomentari kebiasaan kubu Prabowo yang belum menentukan capres dan cawapres tetapi justru sibuk mengomentari kubu Jokowi.
"Semua ketua umum sudah sepakat menyerahkan pada Jokowi. Tetangga saja belum tahu capresnya siapa, cawapresnya siapa tapi kok ribut terus," ucapnya saat diskusi. (wis)