Charles bertemu dengan Direktur Operasional PT Murakabi Sejahtera itu di kediaman Setnov, yang merupakan eks Ketua DPR itu, pada 2011.
Hal ini disampaikan Charles saat bersaksi dalam sidang kasus proyek e-KTP dengan terdakwa Irvanto dan Made Oka Masagung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (7/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesampainya di rumah Setnov, kata Charles, sudah ada Irvanto, pengusaha Paulus Tannos, dan sejumlah pihak swasta lainnya. Namun Charles mengaku lupa detail pembicaraan saat itu.
Saksi kasus e-KTP Charles Sutanto Ekapraja, Jakarta, Senin, 22 Januari. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
"Secara spesifik saya tidak tahu bisa pakai chip dari China atau tidak, kan harus ada standardisasi. Setahu saya chip dari China lebih murah," terangnya.
Dalam persidangan terdahulu, Charles mengaku tiga kali bertemu dengan Setnov untuk membahas proyek e-KTP. Ia pertama kali ke rumah Setnov atas ajakan Oka.
Ia menerima upah US$800 ribu atas jasa konsultasi soal penyediaan perangkat tersebut dari Marliem. Uang itu dibayarkan sebesar US$30 ribu per hari selama hampir setahun.
Dalam perkara ini, Irvanto dan Oka didakwa korupsi proyek e-KTP hingga menyebabkan kerugian negara sebesar Rp5,9 triliun. Sementara Setnov telah divonis 15 tahun penjara oleh majelis hakim.
(arh/sur)
Saksi kasus e-KTP Charles Sutanto Ekapraja, Jakarta, Senin, 22 Januari. (