Meski demikian kata dia, dalam menghadapi pilpres dibutuhkan dana untuk keperluan logistik dan menggerakkan mesin partai. Namun dana tersebut tidak menjadi pertimbangan dalam memilih cawapres.
"Saya kira enggak juga ya, tapi tentu kita perlu ada logistik. Dalam peperangan kita perlu logistik, dalam hal ini peperangan dalam tanda petik ya, pemilu. Tidak mungkin suatu kampanye aja di suatu tempat aja bisa memakan biaya," kata Fadli di Kertanegara, Jakarta, Kamis (9/8) dini hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fadli mencontohkan Prabowo yang menjadi kandidat calon presiden, selama ini telah menggunakan dana pribadi untuk berbagai keperluan.
"Belum belum. Jadi kita harus membicarakan itu sebagai bekal utuk menghadapi pilpres. Kita kan butuh nyetak kaos, butuh saksi-saksi dan sebagainya," katanya.
Sehingga, Fadli menegaskan faktor kesiapan dana tidak menjadi variabel yang menentukan dalam posisi cawapres Prabowo maupun menjalin mitra koalisi.
"Berangkatnya dari situ. Kemudian kita juga mendalami persoalan yang dihadapi masyarakat, dari sisi ekonomi, politik sosial budaya," katanya.
"Dan terutama dari concern kami adalah dari sisi ekonomi, kebutuhan masyarakat makin sulit, lapangan kerja sulit, harga meningkat tajam, daya beli lemah, rupiah juga semakin anjlok dibanding mata uang lain. Hutang yang tinggi. Nah persamaan persepsi ini sudah terbangun," ujarnya.
Andi Arief sebelumnya dalam pesan singkat kepada wartawan mengatakan bahwa Ketua Partai Gerindra Prabowo Subianto diluar dugaan mementingkan uang ketimbang jalan perjuangan yang benar.
"Sandi Uno yang sanggup membayar PAN dan PKS masing-masing Rp500 M menjadi pilihannya untuk cawapres. Benar-benar jenderal di luar dugaan," kata Andi. (age)