Menurutnya, suara dari keluarga TNI ataupun Polri yang memiliki hak suara dalam Pemilu tak signifikan untuk memenangkan seorang kandidat capres.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan bahwa penunjukan Syafruddin sebagai menteri sangat diperlukan mengingat masa akhir jabatan Jokowi akan berakhir pada bulan Oktober tahun depan.
Wakapolri Komjen Syafruddin saat dilantik menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (15/8). (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Selain itu, Lodewijk menilai bahwa Syafruddin memiliki pemahaman dan keahlian yang baik untuk mengatur Sumber Daya Manusia (SDM) ketika manjabat sebagai Wakapolri.
"Karena salah satu tugas seorang Wakapolri ya mengatur direktur SDM. Dicarilah figur, dan Syafruddin memang sudah paham tentang SDM," ungkapnya
Ia pun optimis pengalaman yang dimiliki Syafruddin saat menjabat sebagai Wakapolri dapat diterapkan dengan skala yang lebih luas di kementerian PANRB.
"Kira-kira kalau kita bawa bernegara ya sama. Cuma lingkupnya lebih besar lagi," ujarnya
Eks Menteri Pemberdayaan dan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur, di Kantor KemenPAN RB, Jakarta, Selasa (14/4). (ANTARA FOTO/Defri W) |
Ia menggantikan Asman Abnur yang sudah mengajukan pengunduran diri ke Jokowi karena pilihan politik partainya, Partai Amanat Nasional (PAN) keluar dari koalisi pemerintah di pilpres 2019.
Meski anggota Polri dan TNI aktif tak memiliki hak pilih, Ketua Umum Partai Demokrat SBY sebelumnya sempat mengatakan ada oknum du institusi itu, serta oknum Badan Intelijen Negara (BIN) yang tidak netral dalam Pilkada 2018.
(arh/gil)
Wakapolri Komjen Syafruddin saat dilantik menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (15/8). (
Eks Menteri Pemberdayaan dan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur, di Kantor KemenPAN RB, Jakarta, Selasa (14/4). (