Hal ini menanggapi maraknya kabar tentang mahar sebesar Rp500 miliar dari Sandiaga Uno yang diberikan kepada partai pengusung Prabowo Subianto.
"Pada zaman saya pimpin partai tidak ada [mahar], zaman saya tiga kali ikut [pemilu] juga tidak ada," klaim JK di kantor wakil presiden, Jakarta, Selasa (14/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, JK juga memimpin Partai Golkar pada periode 2004-2009.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini justru berkelakar bahwa istilah mahar hanya dikenal ketika orang akan melakukan perkawinan. Jumlahnya pun tak terlalu banyak. "Mahar itu kalau orang kawin, itu simbolik. Misalnya sekian riyal, tak ada yang tinggi-tinggi kalau mahar, mana ada satu miliar, paling Rp10 juta, Rp20 juta," ucap JK.
Sebelumnya kabar mahar ini santer lantaran politikus Partai Demokrat Andi Arief mengungkap kronologi Sandi membeli parpol dengan menggelontorkan uang sebesar Rp500 miliar.
Sandi sendiri menyebut isu pemberian mahar itu sebagai bagian dari dinamika politik. Ia berniat menemui KPK untuk mendiskusikan kejelasan terkait dana kampanye dalam pemilu.
(arh/sur)