Hal itu disampaikan Garda Indonesia melalui konferensi pers yang juga dihadiri oleh Dirjen Perhubungan Darat Budi Setyadi.
Penanggungjawab aksi dari Garda Indonesia, Yohannes Ben mengatakan penundaan unjuk rasa itu untuk menghargai berjalannya gelaran Asian Games yang membawa nama Indonesia di mata dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai wujud dukungan terhadap kesuksesan Asian Games dengan ini menyatakan aksi 188 diundur sampai batas waktu yang ditentukan berdasarkan kesepakatan presidium Garda selanjutnya, kami tidak bertanggung jawab terhadap resiko moril maupun materil yang tetap mengikuti aksi mengatasnamakan Garda," ujarnya saat konferensi pers di Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (16/8).
Yohanes mengatakan pengemudi ojek online akan mematikan aplikasi atau 'tidak narik' pada pembukaan Asian Games sebagai pengganti aksi yang ditunda tersebut. Aksi 'tidak narik' atau off bid tersebut akan dilakukan di seluruh Indonesia.
Di bawah Garda Indonesia, Yohannes mengklaim terdapat sekitar 1,5 hingga 2 juta pengemudi ojek online se-Jabodetabek.
"Kita sudah sepakat tanggal 18 aksi off bid. Nanti kita rapatkan lahi apakah tiga hari atau hanya satu hari saja. Aksi ini di seluruh Indonesia, karena aksi kita aksi masif nasional jadi serentak seluruh Indonesia," tuturnya.
Yohannes mencontohkan, aksi mematikan aplikasi tersebut pernah dilakukan pada bulan lalu di Yogyakarta, Bogor, Lampung, Surabaya, Palembang dan Medan. Namun aksi tersebut tidak membuahkan hasil yang diingkan melainkan hanya janji manis dari pihak aplikasi.
"Batas akhirnya seperti itu, jika hingga tanggal demikian pemerintah belum berikan putusan sesuai perjuangan ojek online untuk mengatur tarif maka ribuan ojek online dari seluruh Indonesia akan turun serentak," ujar anggota Presidium Garda Igun Wicaksono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (17/7).
(wis)