ANALISIS

Gatot Nurmantyo di Persimpangan Koalisi Jokowi dan Prabowo

Feri Agus, CNN Indonesia | Sabtu, 25/08/2018 18:48 WIB
Gatot Nurmantyo hingga kini belum menentukan sikap, apakah masuk dalam tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf atau Prabowo-Sandi. Gatot Nurmantyo hingga kini belum menentukan sikap, apakah masuk dalam tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf atau Prabowo-Sandi. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden sama-sama membuka pintu bagi mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo untuk masuk tim pemenangan di pilpres 2019.

Sebelum itu, nama Gatot sempat digadang-gadang menjadi kandidat bakal calon presiden maupun wakil presiden 2019-2024. Namun, hingga penutupan pendaftaran pada 10 Agustus lalu namanya tak dipilih, baik koalisi petahana maupun oposisi.

Selepas penutupan pendaftaran itu, Gatot juga belum terlihat muncul di depan publik. Belakang para relawan Gatot menyampaikan sikap dukungan terhadap pasangan calon yang bertarung pada pemilihan presiden 2019.



Suara relawan Gatot ini terbelah. Relawan Selendang Putih Nusantara (RSPN), salah satu relawan Gatot menyatakan dukungan pada pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sementara itu, relawan Gatot yang lainnya, Gatot Nurmantyo untuk Rakyat (GNR) mendukung pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Usai menyatakan dukungan terhadap pasangan Jokowi-Ma'ruf, GNR mengubah namanya menjadi Garda Nasional untuk Rakyat.

Pensiunan jenderal bintang empat itu hingga kini belum menyampaikan sikap, apakah masuk dalam tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf atau Prabowo-Sandi.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menyatakan pilihan saat ini berada di tangan Gatot. Menurutnya, Gatot bakal mempertimbangkan pilihan dukungan dengan melihat sedikit ke belakang.

Ujang mengatakan Gatot dicopot menjadi Panglima TNI jauh-jauh hari sebelum masa dinasnya selesai. Ia digantikan oleh Marsekal Hadi Tjahjanto pada 8 Desember 2017. Sementara itu, dirinya baru pensiun pada 31 Maret 2018.


Ujang menilai fakta di atas bisa menjadi batu sandungan untuk Gatot merapat ke Jokowi lantaran dirinya dicopot sebelum masuk masa pensiun. Di sisi lain, kata Ujang, Prabowo, yang juga berasal dari matra darat, bisa menjadi daya tarik Gatot.

"Kembali ke Pak Gatot apakah memang mau bergabung dengan incumbent yang pernah mengganti dirinya atau memang berjuang bersama-sama barisan partai oposisi," kata Ujang kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (25/8).

Gatot Nurmantyo di Persimpangan Koalisi Jokowi dan PrabowoGatot Nurmantyo saat menjabat panglima TNI. (REUTERS/Beawiharta)
Gatot menjadi orang nomor satu di tubuh militer selama lebih dari dua tahun. Ia diangkat Jokowi pada Juli 2015. Sebelum menjadi Panglima TNI, Gatot mengemban tugas sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, yang dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Gatot merupakan lulus akademi militer 1982. Selepas pensiun, Gatot memiliki keinginan terjun ke dunia politik lantaran dirinya telah kembali menjadi warga sipil, yang memiliki hak dipilih dan memilih. Bahkan beberapa hari setelah resmi pensiun, ia menyatakan siap untuk menjadi presiden bila rakyat menghendaki.

Ujang menilai jika melihat kepentingan politik jangka panjang, maka Gatot tentu akan memilih merapat ke tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf lantaran memiliki peluang yang cukup besar untuk menang pada Pilpres 2019.

Menurutnya, setelah resmi menjadi warga sipil, Gatot tentu ingin berkecimpung dalam kancah politik nasional.

"Bahwa setelah pensiun juga tentu ingin memiliki tempat terhormat dalam panggung politik nasional. Salah satu caranya bergabung dengan incumbent," ujarnya.


Karier Politik Nasional

Senada dengan Ujang, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Idil Akbar menyebut Gatot akan memikirkan karir politiknya di masa depan sebelum memilih bergabung dengan salah satu pasangan calon yang merebetukan kursi R1.

Idil menilai pertimbangan karier politik di kancah nasional menjadi salah satu hal yang membuat Gatot bakal condong memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf, yang dinilai bisa mengungguli pasangan Prabowo-Sandi.

Apalagi, dalam survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, tingkat keterpilihan atau elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf itu mencapai 52,2 persen, sementara Prabowo-Sandi hanya 29,5 persen.

"Dalam konteks itu saya kira memang Pak Gatot kemungkinan lebih memilih Jokowi-Ma'ruf," kata Idil kepada CNNIndonesia.com dihubungi terpisah.

"Tapi ini kan masih dinamis, karena sampai terakhir kemarin saya dapat informasi, Gatot masih belum bisa menentukan mana yang akan dia pilih," ujar Idil menambahkan.

Idul mengatakan meskipun Gatot dipilih sebagai Panglima TNI oleh Jokowi, namun persoalan itu tak bisa dijadikan alasan untuk bergabung ke koalisi Jokowi-Ma'ruf. Menurutnya, pilihan Gatot ini penuh dengan pertimbangan karier politiknya di kancah nasional.

Gatot Nurmantyo di Persimpangan Koalisi Jokowi dan PrabowoGatot Nurmantyo mencium tangan Susilo Bambang Yudhoyono. (Dok. Istimewa)
Sejumlah pensiunan jenderal akan memilih terjun ke dunia politik. Mereka antara lain, SBY, Prabowo, Wiranto, Sutiyoso, Luhut Panjaitan, Hendropriyono, Djoko Santoso, Tedjo Edhy Purdijatno, dan sejumlah pensiunan jenderal lainnya

Idil pun mengamini faktor Ketua MUI sekaligus Rais Aam PBNU Ma'ruf Amin, yang menjadi pendamping Jokowi, bisa menarik Gatot untuk berada dalam barisan koalisi pemerintah. Menurutnya, Gatot pun cukup dikenal baik oleh kelompok Islam selama ini.

"Saya kira itu jadi salah satu pertimbangan karena sejauh ini Gatot cukup dikenal dekat dengan kelompok Islam," tuturnya.

Elektabilitas dan Logistik Gatot

Idil menilai ada beberapa kelebihan Gatot sehingga masing-masing kubu, baik Jokowi-Ma'ruf ataupun Prabowo-Sandi, masih membuka pintu untuk pensiunan jenderal TNI AD itu bergabung.

Pertama, kata Idil, Gatot memiliki elektabilitas yang cukup tinggi dari hasil survei beberapa waktu lalu sebelum pendaftaran Pilpres 2019.

Elektabilitas Gatot pun menjadi salah satu yang tinggi dari beberapa tokoh lain yang ikut disurvei.

"Itu menurut saya satu pertimbangan yang sangat strategis kenapa Gatot diambil," kata Idil

Kemudian yang kedua, menurut Idil, Gatot memiliki kekuatan finansial yang patut diperhitungkan. Berdasarkan pengakuan Gatot, dirinya juga memiliki hubungan dekat dengan taipan Tomy Winata.


Kedekatan Gatot itu yang memunculkan spekulasi bahwa Tomy bakal menyokong dana Gatot bila maju pada Pilpres 2019.

"Jadi ketika Gatot masuk di salah satu pasangan calon dan itu cukup membantu untuk kepentingan logistik," ujarnya.

Selanjutnya, kata Idil, pengalaman Gatot sebagai mantan Panglima TNI juga diperlukan untuk memperkuat tim pemenangan, baik itu pasangan Jokowi-Ma'ruf atau Prabowo-Sandi.

Pengalaman sebagai orang nomor satu di militer ini membuat Gatot bakal terus dilobi agar mau menjadi bagian dari masing-masing pasangan calon. Terlebih lagi Gatot belum lama pensiun dari dunia militer.

"Karena di dalam militer terutama dia cukup baik ya, untuk pengaruhnya," kata Idil. (pmg)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK