Menurut Margo, bantuan masih menumpuk di kantor pemerintahan daerah dan perwakilan desa karena relawan harus melakukan penyortiran barang secara seksama untuk memastikan bantuan yang tersalur layak dan aman digunakan oleh korban di Nusa Tenggara Barat. Namun penyortiran itu kadang masih terhambat karena bantuan dikirim langsung ke alamat yang spesifik.
"Persoalannya kan bantuan yang ada di bandara itu harus disortir dan yang nyortir itu kalau di Pos ya Pos. Kita enggak bisa intervensi. Kadangkala bantuan itu karena saking gratisnya oleh Pos itu ditujukan alamat, alamatnya orang itu bukan kepada posko," ujarnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com pada Kamis (30/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia pun mengingatkan agar jangan sampai bantuan yang terlihat menumpuk tersebut dilihat ditimbun padahal memang tidak seluruhnya layak disalurkan.
"Wah kalau itu tidak bisa dihitung ya (berapa hari untuk penyortiran) karena itu butuh relawan. Sebenarnya pengennya cepat tetapi ada privasi Pos ditujukan kepada alamat," imbuhnya
Sementara itu Kementerian Sosial telah menyalurkan bantuan untuk korban gempa Lombok di Kabupaten Sumbawa Barat senilai Rp. 5.948.673.173. Bantuan ini berupa PKH (Program Keluarga Harapan) Tahap 3 sebesar Rp. 2.949.500.000 dan Rastra Tahap 8 sebesar Rp. 1.110.560.000.
Kemensos juga menyalurkan bantuan logistik dengan total Rp. 1.828.613.173 berupa sembako 2.000 paket, alat dapur keluarga 200 paket, kasur lipat 120 lembar, velbed 50 unit, tenda serbaguna 8 unit, Tenda Keluarga 7 unit.
Selain itu, empat ahli waris telah mendapatkan dana santunan dengan total Rp. 60 juta. (wis)