"Saya tidak pernah tertarik untuk menjadi timses, sampai saat ini, tidak pernah menjadi timses siapapun, baik Jokowi maupun Prabowo," ucapnya, saat dihubungi, Kamis (6/9).
Baginya, menjadi akademisi yang netral dalam berpendapat lebih diutamakan agar menghadirkan pandangan yang tak memihak dan kritis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia tak memungkiri pada 2014 dirinya memberikan keuntungan tertentu bagi kubu Jokowi-Jusuf Kalla. Terutama, dalam hal pandangan pesimistis atas gugatan kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi.
[Gambas:Twitter]
Menurutnya, hal tersebut bagian dari pandangan objektif sesuai keilmuannya. Baginya, keuntungan yang didapat kubu tertentu dari pandangannya hanyalah dinamika.
"Saya tidak pernah memusuhi siapaun, enggak memusuhi pemerintah, enggak ada persoalan juga dengan oposisi. Kalau berpendapat, saya sesuai ilmu, bisa menyenangkan atau tidak," ucap Refly.
Pascapilpres 2014, Refly ditarik ke Istana sebagai Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Namun, itu hanya berlangsung empat bulan, yakni dari 1 Des 2014 hingga 31 maret 2015.
"Walau memang [posisi komisaris] bisa saja karena kompensasi dari pemerintah, sikap saya ditempatkan di manapun, sepanjang saya enjoy, saya akan bekerja dan memberi warna," ujar dia.
Refly kemudian dicopot dari jabatannya sebagai Komut itu lewat RUPSLB Jasa Marga, di Jakarta, Rabu (5/9). Posisi komisaris utama diisi oleh Sapto Amal Damandari, yang merupakan mantan Wakil Ketua BPK.
Jasa Marga sendiri, dalam rilis resminya, tak menyebutkan alasan pencopotan Refly tersebut.
(arh/sur)