Menurutnya, hal tersebut bisa dilihat dari gambar-gambar yang beredar di media sosial usai pengumuman Erick sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Jumat (7/9), di mana foto yang ditampilkan menyandingkan gambar Erick dengan bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno.
Dia menilai hal tersebut mengartikan bahwa Jokowi membutuhkan stuntman untuk menghadapi pasangan Prabowo-Sandi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia pun menduga, kubu pasangan Jokowi-Ma'ruf kaget saat mengetahui pihaknya mengusung pasangan Prabowo-Sandi. Andre pun menyebut kubu calon presiden petahana itu sebagai follower atau pengikut langkah-langkah yang dilakukan kubu Prabowo-Sandi.
"Mulai #2019GantiPresiden, mereka bikin #Jokowi2Periode atau #2019TetapJokowi. Lalu ijtimak ulama minta Prabowo cawapresnya dari ulama, mereka pilih Ma'ruf. Lalu, ketika Prabowo pilih Sandi yang respon positif, mereka cari ketua timses yg 'kesandi-sandian' yaitu milenial, pengusaha muda," katanya.
Andre mengatakan membandingkan Sandi dengan Erick bukan hal yang tepat. Menurutnya, Sandi seharusnya dibandingkan dengan Ma'ruf sebagai bakal cawapres, sedangkan Erick dibandingkan dengan Djoko Santoso karena sama-sama menjabat sebagai ketua tim sukses.
"Coba baca narasi yang dibangun Jokowi-Ma'ruf yaitu Erick Thohir dengan Sandi. Seharusnya, apple to apple, Sandi dengan Ma'ruf. Ini menunjukkan bahwa selain mereka follower, mereka butuh cawapres stuntman," tutur Andre.
(dal)