Bila perlu syarat tersebut menjadi standar bagi seluruh penceramah di Indonesia sebelum memberikan tausiyah.
"Buat saja standar se-Indonesia, jangan buat orang-orang tertentu, tapi seluruh pengajian di Indonesia dalam rangka membangkitkan kecintaan [pada] NKRI," kata Somad dikutip dari TV One, Senin (10/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga mengaku tak keberatan jika diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan jelang ceramah.
[Gambas:Instagram]
Terlebih, Somad mengaku dirinya sudah rutin menyanyikan Indonesia Raya sejak SD. "Saya dirijennya kok, tiba-tiba sekarang disuruh nyanyi [lagu kebangsaan]. Lucu aja," ujarnya.
Somad mengaku heran dirinya masih terus dituding anti-NKRI meski beberapa kali dibantahnya. Termasuk dengan publikasi video ia menggelar upacara bendera bersama anak-anak di hutan.
"Ada yang bilang saya ini ditunggangi tim muslim cyber army, Ikhwanul Muslimin, HTI, garis keras, radikal, disusupkan, ditunggangi, lailahaillah," katanya
Soal atribut yang dinilai berbau HTI, Somad menilai pihaknya hanya mendakwahkan soal kalimat tauhid atau lailahailallah. Menurutnya, banyak pihak yang sudah paham bahwa kalimat tauhid tak melulu identik dengan atribut yang biasa digunakan HTI.
[Gambas:Instagram]
"Sudah cerdas masyarakat juga kelihatannnya. Kalau semua kalimat itu diidentikan dengan hizbut tahrir, lalu bagaimana peti jenazah, kaligrafi, tulisan di mobil," ujar penceramah asal Riau ini.
"Kenapa [HTI] bersalah? Karena mau mendirikan negara dalam negara, antikonstitusi, inkonstitusional, ini kan tidak ada terjadi," ia menambahkan.
Jika memang diperlukan, Somad pun mempersilakan semua pihak membuat tipe tulisan atau khat kalimat tauhid lain yang berbeda dengan tipe tulisan yang lazim digunakan HTI.
Terpisah, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengaku tak melarang UAS berceramah jika memang sudah bertaubat untuk tak mendukung khilafah.
"Kalau UAS sudah bertobat berhenti tinggalkan keinginannya menegakkan khilafah, ya silakan saja berdakwah," ucapnya.
Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas, di Jakarta, Rabu (31/1). (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho) |
"Kalimat tauhid itukan cara menulisnya macam-macam. Kalau ini kan cara menulisnya sangat identik dengan bendera yang selama ini dipakai HTI," kata Yaqut.
(sur)
Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas, di Jakarta, Rabu (31/1). (