Hal itu didasarkan atas hasil suvei pihaknya pada 12-19 Agustus kepada 1.200 responden. Margin of error-nya emncapai 2,9 persen.
"Golkar di ambang batas, naik lagi ke partai papan atas atau partai besar atau partai utama [dukungan di atas 15 persen], atau turun ke partai papan tengah [dukungan di bawah 15 persen]," ujar LSI Denny JA dalam keterangan tertulis, Rabu (12/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, sejak 1999 Golkar selalu menempati posisi pertama atau kedua. Pada 1999 Golkar menempati posisi kedua dengan 22,4 persen suara, pada 2004 menjadi pemenang dengan torehan 21,6 persen suara, pada 2009 dan 2014 menjadi runner-up dengan suara 14,5 dan 14,8 persen.
Eks Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, di DPP Partai Golkar, Jakarta, 2017. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A) |
Kedua, kasus korupsi yang menjerat sejumlah kader Partai Golkar.
"Selain fakta bahwa tidak ada kader Golkar yang menjadi Capres atau Cawapres di Pilpres 2019, warisan Kasus Setnov dan Kasus Korupsi baru mempunyai efek elektoral negatif yang signifikan," tulisnya.
Ketiga, lanjut LSI Denny JA, keberadaan pemimpin kuat di partai pesaing Golkar, yakni PDIP dengan Megawati Soekarnoputri, dan Partai Gerindra dengan Prabowo Subianto.
"Kepemimpinan ketua umum kedua partai ini sangat kokoh di partainya masing-masing," tulis rilis tersebut.
[Gambas:Twitter]
Dengan faktor-faktor di atas, Partai Golkar diprediksi menjadi partai tengah dan bersaing dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrat untuk berebut posisi ketiga.
"Di luar PDIP dan Gerindra, partai papan tengah berpotensi dihuni oleh Golkar, PKB, dan Demokrat," tutup rilis LSI Denny JA itu. (arh/sur)
Eks Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, di DPP Partai Golkar, Jakarta, 2017. (