Vaksin Rubella Masih Jadi Polemik di Aceh

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 13/09/2018 13:31 WIB
Vaksin Rubella Masih Jadi Polemik di Aceh Ilustrasi pemberian vaksin MR. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Banda Aceh, CNN Indonesia -- Imunisasi vaksin Measles Rubella (MR) di Provinsi Aceh jadi sorotan karena diketahui memiliki kandungan enzim babi.

Meski begitu, proses imunisasi vaksin tersebut tetap berjalan di Indonesia setelah fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan boleh (mubah). Akan tetapi, di Aceh sendiri pemberian imunisasi itu tak berjalan karena Majelis Permusyaratan Ulama (MPU) Aceh belum mengeluarkan fatwa.

Setelah dihentikan, pencapaian imunisasi MR di Aceh terbilang rendah. Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Aceh, dari total 1,5 juta anak di Aceh baru sekitar 100.000 yang telah divaksin.


"Kasusnya di Aceh sudah ada. Sudah sering terjadi. Ini kita sangat mengimbau imunisasi vaksin MR dapat terus berjalan di Aceh. Bisa langsung berjalan kembali setelah kemarin kita sempat terhenti karena keputusan bapak plt gubernur menghentikan sementara sampai ada fatwa MUI," ujar Sekretaris Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Aceh, Dr Aslinar, Selasa (11/9).


Sehari setelahnya, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengatakan pihaknya masih menunggu fatwa MPU.

"Aceh itu punya yang namanya MPU, Majelis Permusyawaratan Ulama. MPU itu lebih tua dari MUI. Jadi ketika MUI mengeluarkan fatwa, untuk Aceh kita undang-undang dasar kan melindungi asimetris. Aceh itu asimetris. Ada MPU lembaga ulamanya lebih tua dari MUI. Jadi kita juga harus tanya fatwa MPU," ujar Nova, Rabu (12/9) malam di Banda Aceh.

Nova menjelaskan, pihaknya tidak ingin menghentikan proses imunisasi vaksin MR. Namun, sambungnya, pemerintah menginginkan MPU memberikan fatwa agar ada kepastian hukum secara Islam. Nova pun mengaku sudah melayangkan surat agar MPU segera mengeluarkan fatwa terkait vaksin MR tersebut.

Sementara itu, Husna, seorang ibu yang terjangkit virus rubella berharap vaksin tersebut dapat dilakukan secara menyeluruh di Aceh agar mata rantai virus tersebut dapat diputuskan.

Husna tidak asal bicara. Ia telah merasakan dampak terburuk dari virus rubella. Buah hatinya, Husnul Faina, terlahir dengan kondisi cacat.

Kondisi fisiknya terlihat cukup memprihatinkan. Faina tidak bisa melihat, tak bisa mendengar, juga tak bisa bicara. Bukan hanya itu, di usianya yang telah melebihi dua tahun, Faina belum kunjung bisa berjalan.

"Jantungnya juga kena," ujar Husna saat berbincang dengan CNNIndonesia.com sambil menggendong Faina.

Padahal Husna bukan orang awam. Ia seorang bidan, namun dirinya sama sekali tak menyadari ketika hamil ternyata telah terjangkit rubella.

"Saya maunya semua anak-anak mau diimunisasi supaya memutus mata rantai, supaya enggak menular ke ibu hamil," ujar Husna.

Polemik Vaksin Rubella di Aceh, Riau, dan KepriPetugas menyuntikkan vaksin MR kepada siswa. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Ratusan Penderita Rubella di Riau dan Kepulauan Riau

Sementara itu, dikutip dari kantor berita Antara, Dinas Kesehatan Provinsi Riau menyatakan saat ini terdeteksi 100 anak menderita sindrom congenital rubella akut atau CRS.

Kepala Dinas Kesehatan Riau Mimi Nazir pun berharap semua pihak mau menyukseskan imunisasi MR di provinsi itu, apalagi MUI dan juga MUI Riau telah mengeluarkan fatwa mubah. Mimi mengatakan per bulan ini pencapaian imunisasi MR baru 18,47 persen dari target 1,955 juta anak usia sembilan bulan hingga 15 tahun.

Mimi mengatakan hambatan masih terjadi di bebapa wilayah karena pemdanya yang menunda pelaksanaan kegiatan imunisasi MR seperti Dumai, Indragiri Hilir, dan Pekanbaru.

"Memang vaksin itu hasil pemeriksaan (kandungannya) memang haram. Tapi dalam agama Islam, ada ketentuan yang sangat terpaksa, darurat dan tak ada yang lain, maka hal-hal yang haram zatnya bisa digunakan. Jatuhnya hukumnya mubah," kata Ketua MUI Riau Nazir Karim, Senin (10/9), seperti dikutip dari Antara.

Serupa kondisi di Riau, di Provinsi Kepulauan Riau pun pencapaian imunisasi MR tidak berjalan mulus. Dinkes di provinsi tersebut mencatat baru 38 persen dari 608.124 anak di daerah itu yang mendapatkan imunisasi MR hingga pekan kedua September 2018.

"Peningkatannya hanya satu persen dalam sebulan," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana di Batam, Rabu (12/9).

Pencapaian pemberian vaksin MR kepada anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di Kepri, menjadi nomor 8 terburuk di Indonesia, di atas Riau hingga September ini.

Dari seluruh kabupaten kota di Kepri, pemberian paling sulit di Kabupaten Natuna, yang hingga kini baru mencapai 9 persen. Sedangkan di Kota Batam sudah mencapai 40 persen.

"Sebenarnya target kita di seluruh Kepri bisa mencapai 95 persen, namun sepertinya sulit. Tapi kita tidak akan merubah target, tetap 95 persen," kata dia.

Sementara itu, sejak 2017 silam, Dinkes Kepri mencatat setidaknya 200 anak di wilayah tersebut terjangkit campak dan rubella.

Selain itu, berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, per 30 Agustus lalu ada lima provinsi yang pencapaian pemberian imunisasi MR di bawah 20 persen. Sementara itu, daerah yang berada di atas 20 persen dan di bawah 40 persen ada sembilan provinsi.

(ibn/kid)