Ia menyatkan survei tersebut tak relevan karena tak pernah mengukur kekuatan basis massa para caleg Nasdem di daerah pemilihannya (Dapil) masing-masing.
"Hasil survei LSI tak relevan, dari hasil lolos atau tak lolosnya partai ke parlemen treshold, itu tak mewakili basis elektoral parpol dan figur parpol untuk lolos atau tidaknya," kata Johnny saat ditemui di Rumah Cemara, Menteng, Jakarta, Kamis (13/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia lantas membandingkan hasil survei itu pada hasil Pemilu 2014 lalu. Saat itu, Nasdem hanya meraih elektabilitas rata-rata 1-2 persen dari berbagai hasil survei.
Jhonny mengatakan bahwa masyarakat nantinya tak hanya sekedar mencoblos logo parpol di Pemilu 2019 mendatang.
Ketokohan dan citra para caleg turut diperhitungkan oleh Nasdem untuk meraih simpati masyarakat guna mendongkrak suara.
"Saat ini kami mempunyai tokoh-tokoh yang mumpuni, yang punya basis suara dan kompetensi2 yang unggul di dapilnya masing-masing, mereka akan memberikan kontribusi elektoral, dan kami yakini dengan program kami, 3 besar dapat," ungkapnya.
Diketahui, LSI Denny JA memprediksi lima partai bakal bersaing ketat untuk memperoleh empat persen suara di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 agar dapat menduduki kursi di parlemen.
LSI Denny JA memprediksi bahwa NasDem akan berada di posisi ke-8 dengan 2,2 persen. (eks)