Hal itu ia katakan untuk merespon kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang mengusulkan debat dalam bahasa Inggris dan memperpanjang durasi debat hingga 60 menit.
"Saya hanya ingin mengatakan di dalam debat itu esensinya gagasan. Nah, gagasannya bukan dilihat dari bahasanya atau panjang pendeknya berbicara," kata Moeldoko saat ditemui usai menghadiri Rakernas Projo di Kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (15/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang terpenting, kata dia, masyarakat dapat memahami subtansi gagasan para capres-cawapres ketimbang memikirkan hal lain yang dirasa tak diperlukan.
Lebih lanjut, Moeldoko menyerahkan kepada KPU untuk mengatur dengan baik format debat capres-cawapres di Pilpres kali ini.
"Nanti dulu, nanti ada kajian tentang itu," kata dia.
Sebelumnya, Sekjen Partai Demokrat, Hinca Panjaitan menyatakan pihaknya merasa pola debat kandidat dalam pilpres maupun pilkada serentak selama ini lebih mirip lomba cerdas cermat, karena kandidat dibatasi waktu yang telalu sempit.
"Tapi kalau cuma tiga menit kemudian masing-masing bertanya. Ya udah, kayak cerdas cermat," kata Hinca di Jalan Daksa I No 10, Jakarta Selatan, Kamis (13/9) malam.
Minta Bantuan Relawan Tekan Hoaks
Moeldoko meminta kepada para relawan untuk menekan informasi bohong (hoaks) dan fitnah terkait fakta-fakta kinerja pemerintah di tengah masyarakat.
"Kehadiran relawan bisa menjadi jembatan karna ada sebuah informasi yg di bolak balik kanan kiri atau berita-berita hoax sehingga kita berharap relawan, baik Projo bisa memberikan klarifikasi, bisa meluruskan," kata Moeldoko.
Mantan Panglima TNI itu mengatakan upaya itu harus dilakukan agar ada pembagian tugas antara tugas pemerintah dan tugas relawan di tengah-tengah masyarakat.
"Jadi kita harus memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk menjalan kan tugasnya dengan baik," kata dia.
Ia pun mengimbau para relawan untuk bersinergi membantu kinerja pemerintah untuk meminimalisir gangguan hoaks maupun kabar fitnah terkait kinerja pemerintah.
"Sehingga membawa sebuah keseimbangan yang baik, keseimbangan yang dinamis gitu ya. agar semuanya bsa berjalan dengan track yang baik yang lurus itu kira kira pesan pesan saya," ujarnya.
Ia mengatakan kekuatan para relawan Jokowi-Ma'ruf terletak di media sosial yang memiliki pengaruh signifikan bagi masyarakat.
"Saya pikir Projo memiliki salah satu kekuatan, mereka memiliki di media sosialnya, mereka punya kekuatan untuk itu. Jadi bagaimana sebenarnya berita yang perlu di luruskan, Projo bersuara untuk meluruskan," pungkasnya.
(dal/arh)