"Tentara tidak boleh menjadi alat politik. Tentara adalah alat kebangsaan," kata Prabowo dalam pidatonya saat membuka pembekalan nasional PAN di Jakarta, Minggu (16/9).
Mantan Komandan Jenderal Kopassus ini menyatakan TNI beserta polisi dan lembaga negara lainnya tak boleh ikut berpihak atau menjadi partisipan pada pesta politik di Pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prabowo mengaku tak ingin kembali lagi ke rezim Orde Baru. Dia bercerita ketika itu bahkan muncul lelucon jika ingin menjadi kepala daerah seperti bupati, maka tidak perlu menempuh pendidikan di universitas, melainkan cukup menjadi tentara saja.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo sempat mendapat kritik lantaran disebut membawa-bawa TNI dan Polri dalam berpolitik. Jokowi, yang juga bakal capres 2019, sempat mengajak anggota TNI dan Polri ikut melakukan sosialisasi pencapaian dan kinerja pemerintah.
"Saya titip agar seluruh perwira juga ikut disosialisasikan, ikut disampaikan pada momen-momen yang memang tepat untuk menyampaikan itu," kata Jokowi dalam sambutan kepada Siswa Sesko TNIdan Peserta Sespimti Polri di Istana Negara, Kamis (23/8) lalu.
Lihat juga:Kapolri: Pileg Lebih Rawan Ketimbang Pilpres |
"Permintaan Presiden Joko Widodo di depan anggota TNI/Pori untuk mensosialisasikan kinerja pemerintah, jelas pernyataan yang sangat berbahaya. Sangat politis. Tidak proporsional," kata Fadli melalui akun Twitter @fadlizon, pada Jumat (24/8).
(ptj/arh)