Pamit Terakhir Haringga, Cium Tangan Ibu dan Firasat Ayah

Feri Agus, CNN Indonesia | Rabu, 26/09/2018 11:03 WIB
Pamit Terakhir Haringga, Cium Tangan Ibu dan Firasat Ayah Sejumlah suporter Persija Jakarta berziarah ke makam Haringga Sirla di Indramayu, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Aduh ngenesin gitu, kalau lihat videonya, saya baru lihat saja langsung enggak berani," kata Siloam Tumangkeng (52), ayah Haringga Sirla ketika menyinggung video yang merekam penganiayaan anaknya hingga tewas.

Haringga meninggal dunia saat akan menonton pertandingan klub kecintaan, Persija Jakarta melawan Persib Bandung, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (23/9).

Laki-laki berusia 23 tahun itu tewas diamuk sejumlah Bobotoh, suporter Persib, selaku tuan rumah pada laga kali ini. Haringga merupakan anggota The Jakmania, pendukung Persija. Baru seminggu dia resmi tercatat sebagai anggota The Jak, setelah memperoleh Kartu Tanda Anggota (KTA).



"Saya lihat di tv saja, biar sudah di sensor, kebayang, saya langsung cari saluran tv yang iklan gitu," ujar Siloam melanjutkan dengan mata berkaca-kaca, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (25/9). Ia meminta video yang merekam pengeroyokan anaknya itu tidak disebarluaskan lagi.

Siloam masih ingat saat putra bungsunya itu tertidur pulas di ruang tamu rumah kontrakannya pada Sabtu (22/9) malam atau sehari sebelum berangkat ke Bandung. Rumahnya berada di sebuah gang, di Jalan Bangun Nusa, Nomor 8, RT 13/RW 03, Kelurahan Cengkareng Timur, Jakarta Barat.

Malam itu Siloam merasa gerah dan memilih keluar rumah sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Saat itu dia melihat Haringga tengah tertidur di ruang tamu. Saat kembali masuk ke rumah sekitar pukul 04.30 WIB, Siloam sempat ingin tidur di samping Haringga.

Siloam duduk sejenak di ruang tamu. Beberapa saat kemudian dia memutuskan tidur di kamar lantaran takut mengganggu istirahat anaknya. Di lingkungan rumahnya, kata Siloam, anaknya itu biasa dipanggil Ari.

"Tadinya saya pikir mau tiduran bareng dia di sini. Dia kan tidur di sini (ruang tamu), tapi enggak enak ah, takut ganggu dia. Saya pindah ke dalam," kata Siloam. Ruang tamu rumah kontrakannya tak begitu luas. Hanya ada satu bufet, tanpa kursi.


Itu perjumpaan terakhir Siloam dengan Ari di rumah. Saat masih tertidur pulas, pagi-pagi sekitar pukul 06.30 WIB Ari sudah meninggalkan rumah.

Menurut Siloam, Ari sempat berpamitan dengan ibunya, Mirah. Namun, Ari tak bilang mau pergi menonton pertandingan Persija melawan Persib di Bandung.

Haringga Cium Tangan Ibu Sebelum Pamit Tonton PersijaSuporter Timnas Indonesia memberikan dukungan saat berlangsung pertandingan Timnas U19 Indonesia melawan Timnas U19 Cina. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Berdasarkan cerita Mirah, kata Siloam, baru kali itu Ari mencium tangan ibunya dan meminta doa agar diberikan keselamatan.

Ari mengaku hendak bekerja dengan temannya tanpa menyebut ke daerah mana dirinya pergi. Ia membawa sebuah tas berisi pakaian.

"Ya, sudah dibilang (sama ibunya), hati-hati. Memang biasanya berangkat enggak pernah salaman sama ibunya, ini dia cium tangan, 'Doain ya, Mah'. Dia enggak bilang mau ke Bandung. Cuma bilang ada kerjaan sama temannya," ujar Siloam.


Siloam bercerita, siang itu istrinya memperlihatkan gelagat aneh. Menurutnya, tak seperti biasanya sang istri duduk sendiri di depan gang rumahnya. Saat diajak berangkat mengaji oleh tetangga, istrinya pun menolak.

"Terus diam di pojokan, ditegur sama Bu RT, 'Ngapain di mari? Enggak'. Terus masuk ke dalam rumah, terus balik lagi ke situ, ke depan lagi. Kemungkuninan sudah ada kontak batin atau gimana, saya enggak tahu," kata Siloam.

Siloam sendiri tak menaruh curiga Ari bakal menonton Persija melawan Persib di Bandung. Menurutnya, malam sebelum berangkat, Ari tak mempersiapkan atribut Persija.

Padahal setiap akan menonton pertandingan klub Ibu Kota itu, kata Siloam, anaknya selalu menyiapkan atribut sejak malam sebelum berangkat.

Atribut seperti kaos bertuliskan Persija hingga syal berwarna oranye masih rapi di dalam lemari. Ari hanya memakai pakaian biasa tanpa embel-embel tim berjuluk Macan Kemayoran itu. Baju yang dia bawa juga tak ada yang identik dengan warna oranye.

Haringga Cium Tangan Ibu Sebelum Pamit Tonton PersijaSuporter Persib memajang gambar di stadion saat pertandingan timnya melawan Persija. (AFP PHOTO/TIMUR MATAHARI)
Ari sempat menonton Persija melawan PSIS Semarang, yang digelar di Stadion Agung, Bantul, Selasa (18/9). Kala itu, kata Siloam, Ari mempersiapkan dan membawa atribut Persija.

"Yang terakhir (Persija melawan Persib) ini enggak bawa. Memang dia bawa tas, bawa pakaian, cuma pakaian biasa, bukan pakaian Persija," ujarnya.

Sejak pergi dari rumah, Ari tak memberikan kabar apapun. Siloam mengaku baru mengetahui kabar meninggalnya Ari sekitar pukul 19.30 WIB.


Ari dikeroyok hingga tewas pada siang hari sekitar pukul 13.00 WIB, beberapa jam sebelum wasit meniup peluit dimulainya pertandingan Persija melawan Persib.

Mengetahui kabar anaknya meninggal, Siloam bersama istrinya dan beberapa tetangga bertolak ke Bandung. Di sana, keluarga menjemput Ari dan langsung membawanya ke kampung halaman sang ibu, di Desa Kebulen, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Ari dimakamkan di tempat pemakaman umum setempat pada Senin (24/9) pagi.

Siloam berharap pelaku penyerangan Ari bisa dihukum seberat-beratnya. Kekejian yang terekam dalam video yang beredar itu, kata Siloam, juga harus menjadi pertimbangan dalam memberikan hukuman kepada para pelaku.

Ia juga berharap tak ada korban jatuh lagi pada setiap laga pertandingan sepak bola di Indonesia.

"Mudah-mudahan ini yang terakhir lah gitu, jangan sampai ada Ari, Ari yang lainnya lagi, ke depannya. Jangan sampai begitu," kata Siloam.

Haringga Cium Tangan Ibu Sebelum Pamit Tonton PersijaKoordinator Wilayah The Jakmania Cengkareng, Bayu menyatakan Haringga Sirla telah menerima Kartu Tanda Anggota (KTA) The Jakmania. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Sempat Diperingatkan

Ari memang tak mengaku bakal pergi menonton Persija kepada kedua orang tuanya. Namun, pria yang sehari-hari bekerja di bengkel mobil milik kakak iparnya itu mengajak beberapa teman di rumah berangkat ke Bandung menonton Persija melawan Persib.

Teman-teman itu langsug menolak dan meminta Ari mengurungkan niat. Bahkan, salah satu temannya menyatakan kedatangan ke markas Persib sama saja 'bunuh diri'.

Imbauan temannya tak dihiraukan. Ari tetap berangkat sendiri dari Cengkareng Timur ke Stadion GBLA, Bandung.

"Jadi kemarin kawannya juga cerita, temen deketnya, dia (Ari) ngajak temen deketnya yang tetangga rumah, beberapa orang bilang, 'Yuk, kita ke Bandung', temennya juga melarang, jangan bahaya. Tapi dia semacam memberanikan diri," kata Bayu, Koordinator Wilayah The Jakmania Cengkareng kepada CNNIndonesia, Selasa (25/9).


Bayu sebagai penanggung jawab The Jakmania wilayah Cengkareng juga telah mengimbau kepada anggotanya untuk tidak berangkat ke Bandung. Pengurus pusat The Jakmania juga sudah melarang pergi ke Bandung.

Menurut Bayu, Ari telah menerima KTA sejak Senin pekan lalu. Ari pun telah resmi menjadi anggota The Jakmania, yang bergabung dengan Korwil Cengkareng.

"Ari ini kebetulan emang cinta banget sama Persija atau gimana, jadi mungkin dia memberanikan diri dateng langsung ke Bandung. Jadi di grup tidak ada yang memerintahkan bahwa kita buat berangkat ke Bandung.Tidak ada yang berangkatin," ujarnya.
Pamit Terakhir Haringga, Cium Tangan Ibu dan Firasat AyahSiloam Tumangkeng (52), ayah dari Haringga Sirla. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)

Bayu yang sudah sekitar 18 tahun mendukung Persija menyebut pihaknya pasti akan melarang Ari bila mengetahui dia berangkat ke Kota Kembang. Berdasarkan kabar yang dia peroleh, Ari sudah buat janji dengan rekannya sesama pendukung Persija di Stasiun Bandung.

Bayu mengatakan pihaknya ikut mendampangi keluarga ketika menjemput jenazah Ari di Bandung. Ia juga ikut sampai lokasi pemakaman Ari di kampung halaman ibunya itu.


Sama seperti ayah Ari, Bayu berharap pelaku penyerangan hingga tewas itu dihukum seberat-beratnya. Ia menyerahkan proses hukum para pelaku kepada aparat kepolisian. Bayu juga meminta aparat kepolisian mempertimbangkan kekejaman yang dilakukan pelaku kepada korban.

"Ini negara hukum, mau saya dituntut sebarat-beratnya pelaku yang menganiaya anggota saya. Jadi apapun keputusannya harus setimpal dengan perbuatan mereka. Ini manusia yang digebukin seperti itu," kata dia. (pmg)