"Ya Allah, curahkanlah petunjuk-Mu agar kami tak tersandera sejarah kelam di masa lalu, agar kami membangun masa depan untuk bersatu," ucap dia, Senin (1/10).
Doa Lukman juga menyinggung soal kemajemukan bangsa sebagai bekal merawat persaudaraan. Tak ketinggalan ia mengajak peserta upacara agar memohon kearifan dan keberagaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam doa yang ia panjatkan, Lukman menilai Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum meneguhkan komitmen persatuan bangsa Indonesia. Di samping itu ia juga meminta semua pihak berterima kasih kepada pahlawan yang mewujudkan hal itu.
Sementara itu, Ketua DPR Bambang Soesatyo membacakan dan menandatangani naskah Ikrar. Rangkaian upacara ditutup dengan doa yang dibacakan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.
Seperti tahun lalu, Presiden dan Wapres biasanya beramah-tamah dengan keluarga pahlawan revolusi di sana yang diiringi persembahan lagu-lagu perjuangan.
Lihat juga:Bandingkan Fakta, TNI Didesak Buka Arsip '65 |
Menkopolhukam Wiranto mengatakan penyelesaian tragedi 1965 lewat jalur yudisial akan memunculkan klaim salah-benar dari sejumlah pihak. Baginya, penyelesaian lewat jalur non-yudisial tengah diupayakan.
"Secara non-yudisial dari komponen masyarakat [penyelesaian] itu sudah terjadi, lalu apa yang diributkan?" tuturnya. "Kalau menyalahkan terus habis sudah energi kita untuk ini. Presiden tadi mengatakan, 'sudahlah itu masa kelam bangsa sebagai pembelajaran'," imbuhnya.
(bin/arh)