Kronologi 1.425 Tahanan Kabur saat Diguncang Gempa Palu

Tim, CNN Indonesia | Senin, 01/10/2018 18:39 WIB
Kronologi 1.425 Tahanan Kabur saat Diguncang Gempa Palu Sebanyak 1.425 warga binaan (narapidana dan tahanan) kabur dari penjara yang berada di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah kabur saat gempa mengguncang. (Dok. Ditjen PAS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 1.425 warga binaan, yang terdiri atas narapidana dan tahanan kabur dari penjara yang berada di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah kabur saat gempa mengguncang wilayah tersebut, Jumat (28/9).

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, Sri Puguh Budi Utami mengatakan pada awal gempa para tahanan masih kondusif dan berkumpul di tengah lapangan masing-masing penjara. Mereka disebutkan kabur akibat panik usai gempa susulan terasa cukup kuat oleh para tahanan.

"Isi total (Lapas/Rutan) Sulawesi Tengah 3.220, yang ada di dalam 1.795, yang tidak berada di tempat 1.425. Ini berdasarkan informasi pagi ini," kata Sri di Jakarta, Senin (1/10).



Sri Puguh meninjau langsung situasi lapas/rutan di Palu dan Donggala. Ia melakukan inspeksi ke Lapas Kelas IIA Palu, Lapas Perempuan (LPP) Kelas III Palu, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Palu, Rumah Tahanan (Rutan ) Klas II A Palu , dan Rutan Klas II B, Donggala.

Sri Puguh mendapat cerita langsung dari masing-masing petugas Lapas dan Rutan di atas. Menurutnya, di Lapas Palu, Jumat (28/9), para tahanan telah berkumpul di tengah lapangan, meskipun tembok di bagian luar telah runtuh. Sri mengatakan di Lapas Palu itu juga terdiri LPP dan LPKA.

Kronologi Ribuan Tahanan Selamatkan Diri Saat Gempa SultengSri Puguh Budi Utami. (CNN Indonesia/Ciputri Hutabarat)
Kondisi berubah panik, kata Sri Puguh usai tanah di lapangan retak yang kemudian mengeluarkan air. Selain itu, dua blok di Lapas Palu ambruk. Dia menyebut para tahanan langsung kabur tanpa berdesakan lantaran tembok luar telah roboh lebih dahulu.

"Tapi begitu susul gempa, mereka tak sabar dan lari menuju dua blok yang bobol, hampir semua tak perlu desak-desakan," kata Sri Puguh di kantornya, Senin (1/10).

Sebelum gempa, Lapas Palu berisi 581 tahanan, LPP berisi 84 tahanan dan 3 bayi, serta LPKA berisi 29 tahanan. Setelah kabur, Lapas Palu tersisa 66 tahanan, LPP 9 tahanan, dan LPKA 5 tahanan.

Sri Puguh mengatakan tahanan di Rutan Palu juga sempat kondusif saat awal gempa mengguncang pada Jumat pekan lalu itu. Namun, para tahanan mulai panik saat mengetahui Hotel Roa-Roa runtuh diguncang gempa.

Menurut Sri Puguh, kondisi tersebut membuat para tahanan panik dan tak sabar untuk keluar Rutan Palu. Jaral Hotel Roa-Roa dengan Rutan Palu hanya sekitar 50 meter.

"Jadi getarannya cukup kerasa, mereka panik. Warga binaan yang ada di Ruta Palu, napi dan tahanan panik, mendorong pintu akhirnya sebagian lari," ujarnya.

Sebelum gempa, Rutan Palu berisi 463 tahanan. Saat ini tahanan yang tersisa di Rutan Palu hanya 53 orang.


Sri Puguh menambahkan di Rutan Donggala kondisinya lebih memprihatinkan.

Awalnya para tahanan masih bisa dikumpulkan di tengah lapangan. Namun, kata Sri Puguh, setelah merasakan gempa susulan yang cukup kuat dan mengetahui pusat gempa di Donggala, mereka panik dan langsung menyulut kebakaran.

Mereka yang panik dan ingin segera keluar disinyalir membakar Rutan Donggala. Seluruh tahanan, yang totalnya mencapai 343 orang berhasil kabur dari Rutan Donggala, setelah gempa mengguncang.

"Lapas Donggala dibakar. Kalau menurut cerita dari Kalapas waktu ditenangkan di tengah-tengah lapangan mereka masih mengikuti apa yang menjadi arahan dari kepala dan jajaran," kata Sri Puguh.

"Yang tersisa hanya bangunan depan dengan masjid yang masih utuh. Bangunan depan kami pikir sudah enggak bisa dipergunakan lagi," ujarnya menambahkan.

Saat ini, kata Sri Puguh pihaknya tengah melakukan evaluasi atas kondisi Lapas dan Rutan yang berlokasi di Palu dan Donggala itu pasca-gempa dan tsunami. Menurut dia, pihaknya juga memberikan waktu satu minggu, terhitung 28 September 2018, kepada para tahanan yang kabur untuk menyerahkan diri.

"Waktu yang kami berikan sebelum melakukan pencarian kepada mereka, kami berikan waktu seminggu melaporkan kembali," kata dia.
(fra/kid)