"Wah itu berlebihan, berlebihan, karena mahal," ujar JK di kantor wakil presiden, Jakarta, Selasa (16/10).
JK membandingkan dengan pemasangan kaca antipeluru yang digunakan di rumah dinasnya. Pemasangan kaca antipeluru itu hanya digunakan di kamar tidurnya. Sebab, jika dipasang di seluruh ruangan biayanya akan sangat mahal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alih-alih memasang kaca antipeluru, menurut JK, untuk mencegah berulangnya dugaan peluru nyasar dapat dilakukan dengan meningkatkan pengawasan tempat latihan anggota Perbakin di Lapangan Tembak Senayan.
Ia sendiri tak yakin insiden itu benar terjadi karena peluru nyasar dari anggota Perbakin. Sebab, letak gedung DPR dan lapangan tembak itu berbeda arah. JK mengatakan perlu pernyataan resmi dari kepolisian yang menyatakan bahwa insiden itu memang benar akibat peluru nyasar.
Insiden diduga peluru nyasar di ruang anggota Komisi III DPR Wenny Warouw di lantai 16 dan Bambang Hari di lantai 13 Gedung Nusantara I DPR, terjadi kemarin pada pukul 14.35 WIB.
Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Kepolisian sementara menyimpulkan peluru itu berasal dari Lapangan Tembak Senayan.
Namun Wenny mempertanyakan hasil penyelidikan sementara tersebut. Menurutnya, kepolisian tidak dapat mengambil kesimpulan begitu cepat karena belum ada hasil laboratorium forensik dari proyektil peluru yang bersarang di ruangannya.
Apalagi, kata dia, menurut keterangan polisi peluru itu berkaliber 9 milimeter dan berasal dari Lapangan Tembak Perbakin yang berada di dekat Gedung DPR.
Seharusnya, kata purnawirawan jenderal bintang dua polisi ini, pihak kepolisian juga memeriksa tempat lapangan tembak yang digunakan.
(pris/gil)