Masyarakat diminta mempercayakan kasus itu pada proses hukum yang sedang berjalan.
"Kalau saya bilang silakan selesaikan dengan cara hukum, bukan dengan demo adu domba, emosi," kata Wiranto di Kementerian Sekretariat Negara, Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (25/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembakaran bendera oleh anggota Banser pada Senin lalu memang menyulut aksi demo di sejumlah tempat. Aksi itu telah terjadi sejak Selasa (23/10) atau sehari setelah insiden pembakaran.
Jangan Bakar Bendera NU
Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif mengimbau masyarakat yang ingin mengikuti Aksi Bela Tauhid agar tidak membakar bendera atau atribut Nahdlatul Ulama, Ansor, dan Bantuan Ansor Serbaguna (Banser). Dia meminta aksi dilakukan dengan damai.
"Jangan. Jangan kita sama dengan mereka. Jangankan kalimat tauhid, jangankan panji Rasulullah, simbol ormas pun tetap harus kita hormati," kata Slamet di Hotel Grand Alia Cikini, Jakarta, Kamis (25/10).
"Undang-undang yang ada tetap harus dihormati. Koordinasi dengan aparat kepolisian. Harus Tetap damai, tertib, dan bersih," ujar Slamet.
Slamet menampik aksi di sejumlah daerah dilaksanakan untuk pemanasan menjelang Reuni Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember mendatang. Menurut dia, Aksi Bela Tauhid merupakan reaksi spontan umat Islam atas pembakaran bendera oleh Banser di Garut.
"Ini bentuk jihad umat Islam. Reaksi karena agamanya kembali dinodai, kembali dinistakan. Ini semangat yang luar biasa" ujar Slamet. (fhr/bmw/wis)