Pertama, persoalan pemakaian baju hitam. Selama tiga hari berturut-turut sebelum kecelakaan, dia mengaku terus mengenakan pakaian hitam. Namun, hal ini tidak dianggapnya sebagai pertanda.
Kini setelah kabar kecelakaan pesawat itu sampai ke telinganya, ia pun berpikir bahwa sesungguhnya pakaian hitam yang dikenakannya itu sebagai tanda kabar duka akan merundung keluarganya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, rute dan waktu keberangkatan. Menurut Dwi, sang ayah, yang merupakan Kepala Syahbandar Pangkalpinang, sebelumnya berada di Medan untuk bertemu keluarga dan kerabat. Ayahnya hendak kembali ke Pangkalpinang untuk bertugas.
Keluarga korban pesawat Lion Air JT-610 mendatangi RS Polri Kramat Jati, Jakarta, Selasa (30/10). (CNN Indonesia/Safir Makki) |
"Jadi ke Jakarta transit saja karena tidak ada penerbangan Medan-Pangkalpinang," kata dia.
Dwi sendiri mengaku pertama kali mendapatkan kabar bahwa ayahnya turut menjadi korban kecelakaan setelah mengkonfirmasi anak buah ayahnya. Untuk memastikan, ia menghubungi call center Lion Air untuk menanyakan data manifes penumpang. Dari situ, diketahui bahwa salah satu penumpang Lion Air JT601 adalah ayahnya.
Di tempat yang sama, Niko, salah seorang keluarga korban, masih berharap bahwa ayahnya, Harwinoko, selamat dari kecelakaan itu.
"Saya sih masih berharap [ayah hidup], karena belum ada keterangan dari sini [pihak RS Polri]," ucapnya.
Keluarga korban pesawat Lion Air JT-610 menyerahkan foto dan ciri-ciri korban lainnya ke pihak DVI di RS Polri Kramat Jati, Jakarta, Selasa (30/10). (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Saat itu, mereka juga menyerahkan data-data, terutama data pra-kematian atau antemortem, keluarganya, seperti ciri-ciri fisik, tanda-tanda khusus pada tubuh, apa yang dibawa, dan dikenakan oleh korban.
Suasana pilu terasa menyelimuti. Mereka masih menunggu kepastian kabar terbaru soal evakuasi korban. Beberapa dari mereka tampak duduk dan menangis atas peristiwa ini. Beberapa lainnya tampak berpelukan dan berupaya menguatkan mereka yang masih bersedih.
Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan RS Polri Kramat Jati Brigadir Jenderal Arthur Tampi mengatakan sampai saat ini Tim DVI Polri telah menerima laporan data antemortem dari 185 anggota keluarga korban. Selain itu, 72 pihak keluarga juga sudah melakukan tes DNA.
Untuk jangka waktu identifikasi korban, pihaknya membutuhkan waktu karena harus mencocokkan data yang diperoleh dari keluarga dengan jenazah yang ditemukan.
"Paling cepat kita akan dapat mengidentifikasi yang sudah ada itu sekitar 4-8 hari," kata Arthur.
(fhr/arh)
Keluarga korban pesawat Lion Air JT-610 mendatangi RS Polri Kramat Jati, Jakarta, Selasa (30/10). (
Keluarga korban pesawat Lion Air JT-610 menyerahkan foto dan ciri-ciri korban lainnya ke pihak DVI di RS Polri Kramat Jati, Jakarta, Selasa (30/10). (