Menurut Wakil Ketua TKN Abdul Kadir Karding, FARA tidak memahami posisi Jokowi selaku presiden harus membuat kebijakan agar pemerintahan terus berjalan.
"Itu sih anak-anak yang lagi nyari panggung dan perhatian. Harus dilihat Pak Jokowi itu presiden, jadi memungkinkan beliau membuat kebijakan-kebijakan sebagai presiden yang harus menjalankan pemerintahan," ujar Karding saat dihubungi, Rabu (31/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, ia menyebut masyarakat akan marah jika Jokowi dilarang membuat kebijakan karena menjadi calon petahan.
Presiden Jokowi pada Sabtu (27/10) lalu resmi membebaskan tarif Tol Jembatan Suramadu. Kebijakan pembebasan guna meningkatkan perekonomian Madura yang selama ini tidak terlalu signifikan.
"Kami harapkan dengan menjadi jembatan non-tol biasa, kami berharap pertumbuhan ekonomi Madura baik investasi mendatang semakin banyak, properti, turisme berkembang di Surabaya," kata Jokowi di Jembatan Suramadu. "Pada hari ini saya memutuskan Jalan Tol Suramadu jadi Jembatan non-tol biasa," tuturnya.
"Jangan apa-apa dikaitkan dengan politik. Ini urusan ekonomi, urusan investasi, urusan kesejahteraan, urusan rasa keadilan," kata Jokowi.
Jokowi kembali berkompetisi dengan Prabowo Subianto di Pilpres 2019 ini. Di Madura, pada Pilpres 2014 silam, Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla hanya meraih 692.631 suara, kalah dari Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa yang mendulang 830.968 suara.
Anggota FARA Rubby Cahyady mengatakan ada dugaan kampanye berkedok penerbitan kebijakan saat Jokowi berada di Jembatan Suramadu.
Rubby menyertakan alat bukti berupa foto sejumlah berita media online. Bukti yang dibawanya menunjukkan foto orang-orang di sekitar Jokowi berpose satu jari di Suramadu.
Menurut dia, hal itu termasuk unsur dugaan kampanye terselubung berkedok penerbitan kebijakan. Dia merujuk ke Pasal 282 UU No 7 tahun 2017 tentang Pemilu. (jps/wis)