Kasus yang ia maksud antara lain pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid yang disebut polisi bersimbol organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Garut, Jawa Barat. Serta aksi sejumlah warga menyikapi pernyataan 'tampang Boyolali' yang diucapkan oleh Prabowo Subianto.
"Beberapa kejadian yang juga sensitif jika tak ditangani dengan baik mulai dari peristiwa di Garut, Boyolali, dan beberapa peristiwa yang sensitif secara politis karena masa kontestasi politik, relatif kami bisa kendalikan dengan baik," kata Tito saat beri amanat dalam Upacara Korps Rapor Polri di Ruang Rapat Utama Mabes Polri, Jakarta, Kamis (8/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jenderal bintang empat itu pun mewanti-wanti agar anggota Polri selalu bersikap netral di tahun politik ini.
Pun demikian dengan pernyataan Prabowo tentang 'tampang Boyolali'. Selain membuat sejumlah masyarakat Boyolali turun ke jalan, pernyataan itu melahirkan aksi saling lapor di polisi dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
Kelompok masyarakat yang tidak terima dengan pernyataan 'tampang Boyolali' melaporkan Prabowo ke polisi dan Bawaslu terkait dugaan penghinaan berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).