Pemkab Bandung Barat Tetapkan Status Siaga Banjir dan Longsor

CNN Indonesia | Jumat, 09/11/2018 17:00 WIB
Pemkab Bandung Barat Tetapkan Status Siaga Banjir dan Longsor Ilustrasi Banjir. (ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat, Jawa Barat, menetapkan status siaga banjir, banjir bandang dan longsor untuk meningkatkan kesiagaan menghadapi bencana tersebut selama musim hujan tiba.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat, Dicky Maulana mengatakan penetapan status siaga tersebut berlaku sejak 1 November hingga 31 Mei 2019 mendatang. Penetapan ditandatangani Bupati Kabupaten Bandung Barat.

Dicky menjelaskan penetapan status siaga diambil berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Bahwa hujan di bulan November baru mulai berjalan dan diperkirakan akan berlangsung hingga Mei 2019.


"Prediksi BMKG menyebutkan, puncak hujan akan terjadi pada Januari hingga April. Makanya kita tetapkan siaga banjir, longsor dan banjir bandang sejak 1 November sampai 31 Mei 2019," kata Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (9/11).

Ia menyebutkan keputusan tersebut diambil dari hasil kesepakatan rapat koordinasi di tingkat provinsi.

"Hampir rata-rata menetapkan siaga mulai 1 November hingga 31 Mei," tukasnya.

Dicky menambahkan personel BPBD sudah disiapkan manakala terjadi bencana.

"Sebelum ada status juga personel kita sudah siap, kemudian peralatan yang kita punya dan alat bantuan dari dinas lain juga sudah siap," ujarnya.

Dicky mengakui sejak 27 Oktober kemarin sudah terdapat 18 kejadian bencana seperti tanah longsor, sekolah ambruk. Kasus lain yakni pergerakan tanah di Sindangkerta menyebabkan 48 rumah pada bagian tembok dan lantainya mengalami retak-retak.

"Kejadiannya itu terjadi mulai tanggal 1 November sejak masuk musim hujan. Ada pergerakan tanah sehingga 40 rumah mengalami retak ringan. Kemudian kejadian kedua, Kamis kemarin, hujan lagi sehingga rumah yang retak menjadi 48," jelasnya.

Meski mengalami kerusakan namun para pemilik rumah masih tinggal di kediamannya masing-masing.

"Pergerakan tanahnya lambat, tidak sekaligus. Jadi kita sudah bersurat tadi pagi ke Badan Geologi untuk meminta bantuan kajian teknis," kata Dicky.

(hyg/ugo)