Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes, Eni Agustina menduga isu ini berkelindan dengan pola hubungan keluarga.
"Anak zaman sekarang kurang ada perhatian dan komunikasi yang intens dengan keluarga. Akhirnya mungkin mereka terpengaruh dengan teman-temannya dengan menyuruh untuk minum (rebusan pembalut), Jadi semacam pelarian," kata Eni kepada CNNIndonesia.com, Jumat (9/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dulu anak banyak tapi hubungannya intim saling komunikasi. Tapi kalau sekarang kakak adik bisa kurang berhubungan, akhirnya tidak ada teman cerita dan lebih mendengarkan orang lain," jelas dia.
"Klorin memang ada zat seperti adiktif semacam psikotropika tapi minim sekali saya rasa dan belum ada penelitian khusus yang membuktikan klorin berhubungan sampai ke syaraf," jelas dia.
Ada sejumlah bahan yang terkandung dalam pembalut, beberapa di antaranya seperti wool, plastik, katun, kapas dan klorin. Bahan-bahan itu bukanlah bahan yang biasa dikonsumsi oleh manusia.
Zat klorin yang terkandung dalam pembalut berguna untuk antiseptik pada pemakaian perempuan. Biasanya zat klorin dipakai di dunia medis sebagai pembersih dan sterilisasi alat-alat kesehatan.
"Makanya kalau direbus sekalipun apalagi yang katanya pembalut bekas saya pikir itu banyak bakterinya yang menganggu kesehatan," ungkapnya.
Untuk menangani kasus ini, Eni lebih menitikberatkan kepada penyelesaian akar masalah, yakni penyimpangan perilaku remaja. Diharapkan keluarga bisa lebih memberikan waktu agar remaja tidak terjerumus.
"Karena dikaitkan dengan pola hubungan keluarga kita mengimbau perbaikilah hubungan untuk keluarga karena mungkin tidak ada perhatian dan komunikasi," tutup dia.
Tren fly dengan minum air rebusan pembalut berawal dari informasi masyarakat yang kemudian ditelusuri oleh pihak BNNP Jateng. Meski bukan gaya baru, kemunculan gaya ini tengah santer di masyarakat Jawa Tengah. Belakangan, tren ini mulai meluas hingga ke Jakarta dan Bekasi. (ctr/ain)