MUI Khawatir Eksklusivisme dan Primordialisme yang Menguat

CNN Indonesia | Minggu, 11/11/2018 04:25 WIB
MUI Khawatir Eksklusivisme dan Primordialisme yang Menguat Kesatuan bangsa Indonesia dikhawatirkan terancam oleh sifat eklusivisme dan primordialisme. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'adi mengatakan pihaknya mulai melihat terjadinya keretakan dan terkikisnya ikatan nasionalisme antarelemen bangsa Indonesia.

"Hal ini ditandai dengan menguatnya sikap dan perilaku eksklusivisme kelompok yang mengusung tema primordialisme di masyarakat." ujar Zainut melalui siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com

Ia mengatakan arti dari eksklusivisme sendiri adalah salah satu cara pandang suatu agama terhadap agama-agama yang berbeda dari agama tersebut.


Sedangkan primordialisme adalah sebuah paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil seperti adat istiadat, kepercayaan maupun hal-hal yang sudah ada di lingkungan pertamanya.

"Untuk hal tersebut MUI mengajak semua pihak untuk kembali kepada semangat perjanjian luhur para pahlawan yang telah meletakkan dasar-dasar berdirinya NKRI yaitu Pancasila, agar bangsa Indonesia selamat dari bahaya perpecahan dan tetap berdiri tegak hingga akhir masa." kata Zainut.


Selain itu, melalui siaran persnya, dalam memperingati Hari Pahlawan, MUI mengajak seluruh masyarakat untuk mengenang jasa perjuangan para pahlawan yang telah melindungi dan mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.

Lalu, MUI pun mengajak masyarakat untuk meneladani sifat dan sikap perilaku para pahlawan agar diterapkan di kehidupan sehari-hari.

"Misalnya, sikap rela dan ihlas berkorban, berani, jujur, cinta tanah air, mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan, serta rendah hati dan tidak sombong." kata Zainut.

Mulai mengikisnya nilai-nilai budaya bangsa pun menjadi perhatian MUI. Seperti, perilaku sadisme, seks bebas, penyalahgunaan narkoba, penyebaran hoaks, fitnah, ujaran kebencian, korupsi dan perilaku menyimpang lainnya.

"Semuanya itu merupakan bentuk penyakit masyarakat yang jauh dari nilai-nilai kepahlawanan." ujarnya.

Sementara itu, secara terpisah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memandang perlu memperkuat wawasan kebangsaan di kalangan para guru agama yang merupakan salah satu kunci dalam mempertahankan keutuhan bangsa yang heterogen.

Lukman Hakim Saifuddin. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
"Guru adalah sarana utama yang menyampaikan pesan moderasi keberagamaan kepada generasi mendatang," katanya saat pembekalan kepada guru madrasah dari seluruh Indonesia di Hotel Grand Amarossa Bekasi, Sabtu (10/11) malam seperti dikutip dari Antara.

Di hadapan sekitar 200 guru madrasah yang hadir di sana, Lukman meminta mereka senantiasa menanamkan ajaran Islam ramah yang rahmatan lilalamin dalam setiap mata pelajaran yang disampaikan kepada pelajar.

Ia pun berharap para guru itu agar tak menghentikan pengajaran pada aspek syariat saja. Beragama Islam itu, lanjut Menag, adalah menjalani syariat untuk mencapai hakekat.

"Syariat itu penting dan tidak bisa ditinggalkan. Tetapi mohon jangan berhenti di situ," katanya.

Bila langkah menuju hakekat beragama telah ditempuh, niscaya akan muncul moderasi keberagamaan sehingga tidak ada radikalisme dan ekstrimisme di Indonesia.

"Proses deradikalilasi itu pada dasarnya mengembalikan pemahaman dan pengamalan keagamaan menuju titik tengah atau moderat. Inilah hakekat agama," ujarnya.

"Faktanya saat ini banyak orang yang alim secara keilmuan, tetapi tidak mempunyai kesolehan sosial. Banyak orang yang rajin shalat tetapi juga rajin korupsi, manipulasi, merendahkan sesama, bahkan melakukan kekerasan terhadap kelompok lain. Ada pula orang yang berkali-kali berhaji tetapi tidak tercermin kemabruran dalam dirinya," sambungnya.

(dni/kid)