Analisis

Ziarah Kubur, Upaya Sandi Mendulang Suara

CNN Indonesia | Rabu, 21/11/2018 07:04 WIB
Ziarah Kubur, Upaya Sandi Mendulang Suara Cawapres nomor urut 2 Sandiaga Uno (keempat kiri) ziarah ke makam Ki Enthus Susmono di Desa Bengle, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno langsung memulai kunjungannya dengan menziarahi kuburan massal tsunami Aceh di Desa Siron, Kabupaten Aceh Besar, Aceh pada Selasa (20/11).

Di sana Sandi menabur bunga sekaligus berdoa bagi puluhan ribu lebih korban tsunami yang dimakamkan di lokasi itu.

Usai berziarah di kuburan massal, Sandi mengunjungi makam Sultan Iskandar Muda di Kota Banda Aceh. Bahkan, Sandi disambut dengan prosesi adat di kompleks makam sultan yang berkuasa tahun 1607 sampai 1636 tersebut.


Berziarah ke makam, bukan kali pertama dilakukan mantan Wakil Gubernur DKI itu. Sejak masa kampanye dibuka, Sandi kerap mengunjungi makam.

Sandi pernah berkata, ziarah ke makam-makam diprakarsai oleh istrinya, Nur Asia Uno. Pernah suatu ketika, kata Sandi, dia diingatkan oleh istrinya agar berziarah ke makam seorang habib.

"Kebetulan saya hari ini di Jakarta, jadi Mak Nur ingetin, kamu di daerah sudah ziarah ke mana-mana tapi ke keluarga di Jakarta belum, jadi hari ini lah Habib terima untuk berziarah," kata Sandiaga Uno usai melaksanakan ziarah ke makam Habib Ali di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (15/11).

Sandi mengaku mendapatkan banyak inspirasi ketika berziarah. Selain soal urusan spiritualitas, Sandi juga memandang bahwa aktivitas berziarah sebagai salah satu kegiatan wisata religi yang bisa menumbuhkan perekonomian.

"Wisata religi, karena tiap hari Minggu pagi seluruh jamaah Indonesia kumpul jadi hidup UKM, penjual tasbih, perangkat salat dan makanan nah ini salah satu keberkahan yang kita lihat dari wisata religi lalu menumbuhkan ekonomi umat ekonomi rakyat," kata Sandi.

Itulah sebabnya, kata Sandi, para habib dan ulama menganjurkan untuk berziarah.
Tapi, soal ziarah, Sandi juga pernah 'tersandung'. Saat berziarah ke makam pendiri NU KH Bisri Syansuri, di Jombang, Jawa Tengah. Kala itu, sebuah video viral beredar saat Sandi melangkahi makam yang baru saja dia taburi bunga sebagai salah satu bentuk ziarah yang biasa dilakukan masyarakat selain berdoa di samping kuburan. Sandi pun menyampaikan permohonan maaf.

Ziarah, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai kunjungan ke makam keramat atau ke tempat yang dianggap mulia (makam dan sebagainya). Kegiatan ziarah sendiri sebenarnya sangat lazim dilakukan masyarakat. Terlebih Jawa, ziarah adalah salah satu aktivitas tahunan yang hukumnya fardu digelar setiap kali Idulfitri datang.

Namun, seiring berjalannya waktu, kegiatan ziarah ini seolah menjadi agenda rutin yang dilakukan para politikus yang sedang mendulang suara, berbagai makam didatangi, bukan untuk minta wangsit tentunya, tetapi kebanyakan untuk mendapat simpati masyarakat.

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Zaki Mubarak menyebut dewasa ini aktivitas ziarah telah bergeser dari yang semula kepentingan agama berubah jadi kepentingan pencitraan.

"Ziarah wajar, tapi mungkin saat ini berubah niatnya," kata Zaki saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon, Selasa (20/11).

Ziarah menurut Zaki wajar dilakukan masyarakat untuk mendoakan kerabat atau leluhurnya yang telah wafat. Namun, akan berbeda jika politikus yang melakukan kegiatan ini.

Sebab kata dia, yang didatangi bukanlah kerabat dekat yang telah wafat, melainkan makam-makam tokoh besar yang bisa menambah pengaruh suara bagi dirinya dalam pemilihan mendatang.

"Jadi asa kepentingannya sudah berubah haluan, semula ini sebagai kegiatan beragama, tapi kemudian akan berubah karena yang didatangi bukan makam keluarga. Tapi siapa? Tokoh besar, untuk apa? Dulang suara, raup dukungan," kata dia.

Meski begitu, Zaki mengaku tak bisa menyebut hal tersebut sebagai sesuatu yang salah dilakukan. Lagi pula berziarah adalah aktivitas yang lazim dilakukan masyarakat sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada yang sudah wafat.

Begitu juga dengan yang dilakukan Sandi, kata Zaki, jika pun ada niatan terselubung dari aktivitas ziarah ini tentu tak bisa dinilai dengan mata telanjang.

"Pasti ada niat lain. Tapi kan tak bisa dilarang, itu juga hal yang wajar dilakukan," kata dia.
(ibn/ugo)