Tjahjo menilai hal itu wajar diungkapkan Jokowi karena yang disampaikan tidak benar.
"Sangat manusiawi jika Presiden Bapak Jokowi mengekspresikan jengkel dan marahnya melalui ungkapan akan tabok. Sesuatu yang tidak masuk akal dan Itu jelas fitnah," kata Tjahjo melalui keterangan tertulisnya, Jumat malam (23/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan sudah selayaknya aparat penegak hukum turun tangan mengusut dan mencari tahu siapa aktor intelektualnya. Hal itu agar tidak ada lagi fitnah yang beredar di masyarakat, khususnya melalui media sosial.
Tjahjo menilai kabar bohong yang mengaitkan Jokowi dengan PKI tidak lepas dari kondisi saat ini, dimana telah memasuki tahun politik.
Namun sedianya, kata Tjahjo, seluruh pihak sama-sama melontarkan narasi-narasi yang membangun. Berbagai bentuk kampanye berupa hujatan, isu-isu yang kontra produktif dan tidak mencerdaskan rakyat tidak perlu digulirkan. Khususnya di media sosial, hal seperti ini harus dibersihkan.
Pernyataan kontroversial diucapkan Jokowi saat berkunjung ke Lampung Tengah. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu geram karena kerap dituduh PKI.
Padahal, kata Jokowi, PKI dibubarkan pada 1965 sedangkan dirinya lahir pada 1961. Tak hanya itu, di media sosial tersebar gambar orang serupa Jokowi ketika Ketua PKI DN Aidit berpidato pada 1959.
"Saya lihat di gambar kok ya persis saya. Ini yang kadang-kadang, aduh, mau saya tabok orangnya di mana saya cari betul. Saya ini sudah empat tahun diginiin, Ya Allah sabar, sabar," ujar Jokowi di Kompleks Pemkab Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah, Jumat (23/11). (frd/eks)