Hal itu ia sampaikan untuk merespons berbagai kritik yang dialamatkan kepada Jokowi terkait penggunaan diksi tersebut.
Politisi Nasdem itu menilai Jokowi sudah memahami bagaimana menyesuaikan gaya berkomunikasi dengan baik ketika bertemu dengan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Irma pun mengeluhkan beberapa pihak kerap mengkritik gaya komunikasi Jokowi yang tak berkelas ketika berpidato di hadapan masyarakat.
"Ada yang menganggap bahwa bahasa Pak Jokowi ini tak berkelas, memangnya rakyat Indonesia ada kelas-kelasnya? Kalau menurut kami dari TKN enggak ada kelas, rakyat Indonesia semuanya sama. Di mata hukum sama, di mata Tuhan semua manusia sama," kata dia.
Selain itu, Irma mengungkapkan bahwa pemiliham diksi 'Tabok' merupakan ekspresi kemarahan Jokowi terhadap pihak yang kerap menyebarkan berita bohong (hoaks) selama empat tahun menjabat sebagai presiden.
"Nah akhirnya Pak Jokowi menyadari bahwa beliau bukan malaikat dan beliau harus menunjukan kepada publik bahwa saya adalah manusia biasa dan pasti bisa marah, dan saya menyampaikan bahwa cukup, enough ya, berita bohong, fitnah, SARA dan lainnya kepada beliau," ujar dia.
(rzr/dea)