Yang terbaru, keputusan Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam yang memilih mundur dari jabatan Anggota Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212.
Pria yang pernah berperan mempertemukan alumni 212 dengan Presiden Joko Widodo, April lalu, mengaku kecewa dengan PA 212. Ia menilai semangat membela agama yang kental pada Aksi Bela Islam 2 Desember 2016 kini luntur. Gerakan Islam ini, katanya, sekarang telah terkontaminasi dengan politik praktis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usamah bercerita semangat awal gerakan ini adalah menegakkan hukum Allah SWT yang sempat disentil mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
"Murni melihat ketika itu semangat membangun persatuan umat, membela Al-Maidah ayat 51 tentang pemimpin muslim. Tunggal, satu isu, tidak ada isu lain hanya membela agama," kata Usamah.
Ketua Umum Parmusi Usamah Hisyam, di Jakarta, Selasa (27/11). (CNN Indonesia/Dhio Faiz) |
Kemudian Parmusi juga memutuskan ikut Aksi Bela Islam bersama beberapa ormas lain yang dikomandoi Rizieq Syihab. Parmusi dan ormas lainnya--yang kelak menjadi PA 212--menuntut Ahok untuk mempertanggungjawabkan perkataannya lewat jalur hukum.
Alhasil, Ahok pun mendekam di Rumah Tahanan Mako Brimob, Depok, selama dua tahun usai majelis hakim memutusnya bersalah dalam kasus penistaan agama.
Usai Ahok mendekam di penjara, kata dia, sebetulnya PA 212 sudah menunaikan tugasnya. Namun, perpecahan mulai timbul.
Ketiganya memiliki arah berbeda. Bahkan mereka sempat menuding kubu lain ilegal.
"Ya kalau itu semuanya maunya membangun semangat 212 dalam rangka persatuan umat, tapi mereka sendiri pecah karena conflict of interest," ungkap Usamah.
Masalah pun berlanjut di medio 2018. Sesaat sebelum Pilpres 2019 digelar, PA 212 menggelar Ijtimak Ulama guna mendiskusikan arah dukungan ke salah satu kandidat.
Ijtimak Ulama dihadiri sejumlah tokoh politik nasional di Jakarta (27/7). (CNN Indonesia/ Hesti Rika) |
Usamah dan beberapa tokoh, seperti pendakwah Bukhari Muslim, tidak diundang. Mereka tidak diberi akses masuk berupa kartu identitas khusus. Akhirnya mereka pun tak bisa ikut mengambil keputusan.
"Mungkin saya dianggap akan menggagalkan putusan dukungan terhadap Prabowo itu, makanya tidak diundang," katanya.
"Tapi saya merasa bersyukur tidak menanggung dosa. Jangan main-main, ijtimak itu sakral, kalau salah mengeluarkan putusan, dosanya turunan, kita pakai syariah," tambah dia.
Usamah mengatakan hal ini kembali menimbulkan perpecahan di internal 212. Beberapa pihak tidak setuju karena menganggap Prabowo tidak sesuai semangat 212, mencari pemimpin Islam kafah.
"Katanya NKRI bersyariah, pendekatannya NKRI bersyariah, muncul-munculnya Prabowo, lho?" ucapnya.
Baginya, Yusril jelas lebih kafah karena memimpin partai Islam yang benar-benar mengamalkan syariat Islam, atau Rizieq yang menurutnya jelas paham Islam secara sempurna.
Usamah akhirnya mengirim surat pengunduran diri kepada Ketua PA 212 Slamet Maarif pada 11 November. Ia resmi hengkang dari jabatan anggota penasihat.
Meski mundur, Usamah tak melarang anggota Parmusi untuk ikut dalam aksi-aksi 212 mendatang. Namun sekarang elite Parmusi akan 'mematikan mesin' dukungan.
Usamah dkk tidak akan menggerakkan massa secara aktif pada perhelatan 212. Dia mengatakan Parmusi membawahi sekitar lima ribu pendakwah dan sekitar 2,5 juta kader.
Terkait dukungan politik, Parmusi tidak secara spesifik memerintahkan kadernya untuk memilih salah satu kandidat apakah Jokowi-Ma'ruf atau Prabowo-Sandi.
"Pilih yang taat agama," ujar Usamah.
Bukan yang Pertama
Usamah Hisyam bukan yang pertama meninggalkan bahtera Persaudaraan Alumni 212. Beberapa nama elite 212 sudah lebih dulu keluar dan bahkan menyeberang ke kubu petahana.
Mei lalu, Ali Mochtar Ngabalin meninggalkan rekan-rekannya di 212 untuk bergabung dengan Istana. Ia didapuk sebagai Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KSP).
Politikus Golkar yang jadi orator dan penggerak Aksi Bela Islam 212 ini bahkan mendapat jabatan lainnya, Dewan Komisaris PT Angkasa Pura I. Sejak itu, Ngabalin jadi orang paling vokal membentengi Joko Widodo dari serangan oposisi dan Alumni 212.
Eks tokoh gerakan 212 yang kini jadi bagian Istana, Ali Mochtar Ngabalin. (CNN Indonesia/Kustin Ayuwuragil) |
Kepada CNNIndonesia.com, Ngabalin berujar saat ini Aksi 212 sudah keluar konteks. Ahok sebagai target utama sudah dijebloskan ke penjara. Dia bahkan mencibir Reuni 212 nanti hanya sekadar romantisme tanpa esensi.
"Lebih ke romantisme karena tidak ada lagi musuh. Yang selalu digembar-gemborkan Ahok. Sekarang ada Pak Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno sebagai cawapres. Capres ada Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Semua muslim taat, no problem," ujar Ngabalin, Selasa (27/11).
Dihubungi terpisah, Kapitra melontarkan pernyataan bernada sama. Gerakan 212, ucapnya, sudah selesai ketika Ahok divonis bersalah.
"Waktu itu kami syukuran, hukum ditegakkan karena waktu itu, 30 November, dilimpahkan ke pengadilan. Aksi 212 mensyukuri presiden tidak menghalang-halangi perkara," kata Kapitra lewat sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com.
Kapitra mencibir reuni yang bakal digelar itu hanya merayakan kejahatan orang lain. Padahal Ahok sudah mempertanggungjawabkan perbuatan dengan menjalani proses hukum.
Seharusnya, kata dia, umat muslim belajar memaafkannya. Kapitra mengatakan Allah mengajarkan Islam itu memaafkan kesalahan orang lain.
Eks aktivis 212 Kapitra Ampera yang kini menjadi caleg PDIP. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Usamah pun berani mengatakan bahwa reuni mendatang sangat mungkin tidak dihadiri tokoh-tokoh di awal masa perjuangan. Prediksi ini ia ucapkan mengingat gerakan bela agama tersebut sudah dicampuradukkan dengan politik praktis.
"Ulama banyak saya kira yang tidak akan ikut lagi 212 ini. Cek saja tokoh-tokoh awal [gerakan 212] seperti Yusuf Mansur, Bachtiar Nasir, Aa Gym, Arifin Ilham, ikut tidak mereka?" cetusnya.
Kubu Jokowi
Di sisi lain, Juru Bicara PA 212 Novel Bamukmin membantah semua yang dikatakan Usamah. Novel mengatakan pihaknya semakin yakin Usamah sudah 'masuk angin'.
Caleg DPRD DKI dari PBB itu mengatakan Usamah menunjukkam jati dirinya sebagai orang pro Jokowi. Hal ini, kata Novel, sudah terlihat sejak Usamah menjembatani Jokowi dan 212.
"Kami sudah tahu, Usamah ada hubungan dengan Jokowi. Pikir saya Usamah lebih berat kepada perjuangan bela Islam, ternyata lebih memilih kelompok penista agama," kata Novel melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com.
Novel mengklaim mundurnya Usamah tidak memengaruhi dukungan Parmusi kepada 212. Ia juga bilang keputusan Usamah tidak bakal memecah belah PA 212.
Aksi 212 di kawasan Monas dan bundaran patung kuda, Jakarta, 2 Desember 2016 lalu. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Terkait status pengunduran diri Usamah, Novel menyebut itu masih dalam proses di PA 212.
Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif mengatakan dirinya sudah menerima surat pengunduran diri Usamah. Surat itu perlu dibahas oleh Rizieq Shihab sebagai Dewam Pembina dan Amien Rais sebagai Dewan Pertimbangan.
"Nanti ada rapat khusus, di-pending sampai reuni selesai. Sementara [Usamah] nonaktif saja," kata Slamet.
(dhf/arh)
Ketua Umum Parmusi Usamah Hisyam, di Jakarta, Selasa (27/11). (
Ijtimak Ulama dihadiri sejumlah tokoh politik nasional di Jakarta (27/7). (
Eks tokoh gerakan 212 yang kini jadi bagian Istana, Ali Mochtar Ngabalin. (
Eks aktivis 212 Kapitra Ampera yang kini menjadi caleg PDIP. (
Aksi 212 di kawasan Monas dan bundaran patung kuda, Jakarta, 2 Desember 2016 lalu. (