"Revitalisasi itu sekitar 20-30 persen dari total 893.000 meter [saluran drainase]," ujar Mustajab saat dihubungi, Selasa (4/12).
Ia mengatakan lamanya proses revitalisasi saluran drainase tersebut dikarenakan kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) dalam perencanaan revitalisasi tersebut. Selain itu, sambungnya, anggaran untuk proses revitalisasi itu juga tidak mencukupi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat belum selesainya proses revitalisasi saluran drainase tersebut, kata dia, waktu surutnya genangan atau banjir saat hujan turun menjadi lebih lama.
"Kalau pembersihan [saluran drainase] itu 60 persen lebih," ujarnya.
Lebih dari itu, Mustajab menambahkan untuk menanggulangi banjir di wilayah Jakarta Timur, pihaknya menyiagakan karung pasir serta pompa mobile.
"Setidaknya banjir itu tidak langsung menghantam ke rumah masyarakat, kita redam dulu menggunakan batu bronjong," tutur Mustajab.
Sebelumnya, dari data Dinas SDA ada sejumlah titik di Jakarta Timur yang rawan banjir. Yakni di RW 02, 03, 10, 12 Kelurahan Cibubur, diKomodor Halim Perdanakusuma, di RW 03, 04, 12 Kelurahan Cipinang Melayu, serta di RW 04, 05, 07, 08 Kelurahan Kampung Melayu.
(arh)