Jejak Dua Kasus Bahar Smith, Hina Jokowi dan Aniaya Pemuda

CNN Indonesia | Rabu, 19/12/2018 13:53 WIB
Jejak Dua Kasus Bahar Smith, Hina Jokowi dan Aniaya Pemuda Bahar Bin Smith. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Desember 2018 menjadi bulan yang penuh kesibukan untuk penceramah Bahar bin Smith karena rutin mendatangi kantor polisi. Sebab, pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 23 Juli 1985 itu tengah bermasalah dengan hukum.

Dalam kurun tak sampai dua pekan, polisi menetapkan pemilik nama lengkap Sayyid Bahar bin Ali bin Smith itu sebagai tersangka untuk dua kasus berbeda.

Kasus pertama yang menjerat Bahar sebagai tersangka adalah dugaan diskriminasi ras dan etnis. Kasus ini berawal saat seorang yang mengaku berasal dari Jokowi Mania membuat laporan polisi di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri pada 28 November 2018, laporan itu diterima dengan nomor: LP/B/1551/XI/2018.


Laporan terhadap Bahar muncul akibat pernyataannya dalam sebuah video di media sosial yang menampilkan ceramah Bahar saat peringatan Maulid Nabi di Palembang, Sumatera Selatan pada 8 Januari 2017 silam.

Dalam video itu, Bahar menyebut Presiden Joko Widodo sebagai pengkhianat negara dan rakyat. Dia juga menyebut Jokowi sebagai seorang banci.

Selang tiga hari setelah laporan itu dibuat, penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim langsung melayangkan panggilan pemeriksaan terhadap Bahar. Dalam surat panggilan itu, pemimpin Majelis Pembela Rasulullah itu diminta datang menemui penyidik pada Senin (3/12).

Namun, Bahar tak memenuhi panggilan dengan alasan tak menerima surat panggilan. Polisi kemudian bergerak melayangkan surat panggilan kedua terhadap Bahar dengan jadwal pemeriksaan pada Kamis (6/12).

Sambil menunggu hari pemeriksaan Bahar tiba, polisi bergerak memeriksa saksi dan ahli, serta menggeledah Bahar di Palembang untuk mencari sejumlah barang bukti.

Sebanyak 11 orang saksi dan empat ahli pun diperiksa terkait dugaan tindak pidana yang dilakukan Bahar. Berdasarkan hal tersebut, kemudian meningkatkan status kasus dugaan diskriminasi ras dan etnis dengan terlapor Bahar dari penyelidikan ke penyidikan.

Bahar akhirnya memenuhi panggilan penyidik Dittipidum Bareskrim, Kamis (6/12) sekira pukul 11.28 WIB. Setelah menjalani pemeriksaan selama kurang lebih 11 jam, polisi pun menetapkan Bahar sebagai tersangka dengan jeratan Pasal 4 huruf b angka 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Polisi tidak menggunakan tiga pasal yang sebelumnya digunakan pelapor dalam laporan ke Bareskrim, yakni Pasal 45 juncto 28 ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan Pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap penguasa.

Meski sudah jadi tersangka, penyidik memutuskan tidak melakukan penahanan terhadap Bahar karena menilai yang bersangkutan kooperatif. Kini, berkas perkara terkait kasus itu masih dalam tahap pelengkapan dan direncanakan akan dilimpahkan ke pihak kejaksaan pekan depan.
Jejak 2 Kasus Bahar bin Smith, Hina Jokowi dan Aniaya PemudaBahar bin Smith dikawal para pengikutnya saat menjalani pemeriksaan polisi. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi).
Di hari yang sama saat Bahar memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik Dittipidum Bareskrim, muncul kabar terkait dugaan tindak pidana lain yang dilakukan Bahar.

Sebuah pesan singkat lewat aplikasi tukar pesan WhatsApp yang menyebutkan Bahar telah dilaporkan atas dugaan tindak pidana penganiayaan ke Polres Kabupaten Bogor beredar di kalangan wartawan.

Dalam pesan itu dijelaskan bahwa dugaan tindak penganiayaan terjadi di terjadi di Pesantren Tajul Alawiyyin di Pabuaran, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Sabtu (1/12). Polres Kabupaten Bogor menerima laporan itu dengan nomor laporan polisi LP/B/1125/XI/I/2018/JBR/Res. Bgr tertanggal 5 Desember 2018.

Dua orang yang berinisial MHU (17) dan ABJ (18) dikabarkan menjadi korban dalam dugaan tindak pidana penganiayaan yang dilakukan Bahar ini.

Namun, polisi mengaku belum mengetahui kebenaran pelaporan tersebut saat dikonfirmasi.

Awal pekan ini, kabar terkait kasus itu kembali beredar di kalangan wartawan dan menyebut bahwa kasus telah diambil alih oleh Polda Jawa Barat. Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Barat pun menjadwalkan pemeriksaan terhadap Bahar pada Selasa (18/12).

Bahar pun memenuhi panggilan itu. Ayah empat anak itu tiba di kantor Ditreskrimum Polda Jawa Barat sekitar pukul 12.25 WIB dengan ditemani sembilan orang pengacara.

Usai menjalani pemeriksaan selama delapan jam, Bahar ditetapkan penyidik sebagai tersangka. Dalam kasus ini, ia dijerat dengan Pasal 170 KUHP dan atau 351 KUHP dan atau Pasal 80 Undang-Undang Tahun 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Berbeda dengan kasus sebelumnya, polisi kali ini memutuskan untuk melakukan penahanan terhadap Bahar. Penahanan dilakukan lantaran polisi menerima informasi sebelumnya Bahar akan melarikan diri dan perintah seorang atasan Bahar untuk mengamankan penceramah berambut gondrong tersebut.

"Adanya informasi tersangka BS akan melarikan diri dan adanya perintah dari pimpinan tertingginya untuk diamankan," ujar Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/12).

Saat ini, Bahar masih tersangkut satu kasus lain lagi di polisi yang sudah dalam tahap penyidikan. Kasus itu, yakni dugaan ujaran kebencian yang ditangani Direktorat Reserse Kriminal (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya.

Bahar sendiri belum menjalani pemeriksaan terkait kasus ini. Penyidik baru mendalami dugaan tindak pidana ini dengan memeriksa saksi dan ahli. (mts/osc)