ANALISIS

Narasi Kecemasan Prabowo di Balik Pidato Indonesia Punah

CNN Indonesia | Kamis, 20/12/2018 07:54 WIB
Narasi Kecemasan Prabowo di Balik Pidato Indonesia Punah Calon presiden nomor urut dua Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto kembali mengeluarkan pernyataan yang kontroversial. Kali ini lewat pernyataan bahwa Indonesia akan punah jika ia tak menang di Pilpres 2019.

Prabowo menganggap sudah terlalu lama para elite keliru dalam berkuasa. Akibat kekeliruan itu, menurutnya, ketimpangan sosial di Indonesia semakin tinggi.

Tak hanya itu, Ketua Umum Gerindra ini mengatakan sistem saat ini juga harus diubah agar Indonesia tak punah. Ia melihat sistem saat ini membuat Indonesia semakin miskin dan tak berdaya.


Kubu Joko Widodo tidak sepakat bahwa Indonesia akan punah jika Prabowo kalah di Pilpres 2019. Mereka justru khawatir Prabowo akan membuat Indonesia akan kembali ke masa lalu jika menjadi presiden.

PDIP selaku partai pengusung Jokowi di Pilpres 2019 pun meminta Prabowo tidak mengumbar ancaman untuk mendulang dukungan. PDIP menilai pernyatan Prabowo tidak mendidik dan identik dengan gaya politik Soeharto.
Narasi Kecemasan Prabowo di Balik Indonesia PunahPrabowo naik ojek online untuk menghadiri kopi darat driver ojol. (Foto: Dok. Tim Prabowo-Sandiaga)


Pengamat komunikasi politik Lely Arrianie menilai pernyataan Indonesia akan punah hanya bagian dari strategi Prabowo mendapat simpati masyarakat. Dengan narasi kecemasan itu, menurutnya, Prabowo berharap bisa dianggap sebagai pahlawan oleh masyarakat.

"Prabowo Subianto ingin dilihat sebagai pahlawan dengan membangun narasi kecemasan yang tujuan akhirnya ia ingin dilihat sebagai hero," ujat Lely kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/12).

Lely menuturkan diksi pesimisme yang dibangun oleh Prabowo akan kontra produktif bagi elektabilitasnya. Sebab, realitas saat ini menyebut kinerja Jokowi selaku calon petahana masih mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat.

Lebih lanjut, Lely menilai penyataan Prabowo bahwa Indonesia akan punah juga bertentangan dengan tiga indikator komunikasi di dalam kampanye, yakni harapan, perubahan, dan kesatuan.
Narasi Kecemasan Prabowo di Balik Indonesia PunahKubu Jokowi justru khawatir Indonesia semakin tak terurus jika Prabowo menjadi presiden. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Terkait harapan, ia berkata diksi Prabowo soal Indonesia punah atau Indonesia bubar pada 2030 tak cocok dengan harapan kalangan milienial saat ini. Ia berkata diski itu membuat kalangan milenial yang sedang membangun harapan menjadi pesimistis.

"Coba bayangkan jika yang dibangun pesimisme. Akankah ia (milenial) punya harapan," ujarnya.

Sementara dalam hal perubahan, Lely menyebut diksi Indonesia punah tidak akan mengubah motivasi seseorang. Diksi itu, kata dia, justru melangkahi Tuhan.

"Sementara kesatuan, diksi itu kembali membelah publik. Bukan menyatukan sikap optimis dan pesimis menjadi motif sosial, misalnya terutama tentang need for power, need afiliation, dan need for achievement," ujar Lely.


Pengamat politik Universitas Gadjah Mada Dodi Ambardhi menilai narasi Indonesia bubar tidak akan meningkatkan elektabilitas Prabowo. Ia justru berkata narasi itu hanya memperkuat loyalitas pendukung Prabowo saat ini.

"Kalau dia mau meraih simpati di luar kelompok pendukung saya kira itu tidak pas," ujar Dodi kepada CNNIndonesia.com.

Dodi mengatakan narasi Indonesia bubar yang dibuat Prabowo sebagai upaya meyakinkan kembali para loyalisnya bahwa hanya dirinya yang dapat membuat Indonesia maju.

Sementara bagi pemilih mengambang, ia berkata, hanya menilai narasi itu sebagai hal yang berlebihan.
Narasi Kecemasan Prabowo di Balik Indonesia PunahRelawan pemenangan Prabowo-Sandi meriahkan persiapan kampanye Pilpres 2019 beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Di sisi lain, Dodi menilai tak ada makna khusus di balik pernyataan Prabowo bahwa Indonesia akan punah jika ia kalah di pilpres. Pernyataan itu semata-mata hanya retorika Prabowo untuk mendapat dukungan.

Sebab, ia berkata punah dalam keilmuan berkaitan dengan peradaban. Menurutnya, peradaban yang punah itu tak terkait dengan keberadaan manusia, melainkan kebudayaan yang lebih luas.

Misalnya, kata dia, kepunahan peradaban kekhalifahan Islam. Dalam fenomena itu, ia menyebut orang Muslim tetap ada meski peradabannya punah.

"Jadi presisinya di sana (narasi Indonesia punah) itu tidak ada. Yang lebih menonjol di sana adalah elemen emosinya," ujarnya.

Lebih dari itu, ia memaklumi Prabowo selaku oposisi menyampaikan pernyataan itu. Prabowo, kata dia, lebih menekankan sisi emosi ketimbang pesan di balik pernyataannya.

(jps/gil)