Namun, buoy yang berfungsi mendeteksi tsunami akibat gempa tektonik saat gelombang masih jauh dari bibir pantai malah hilang, beberapa rusak, dan tidak sedikit yang sengaja dirusak.
Ia menyampaikan ada 12 buoy yang sudah terpasang sebelumnya. Padahal ketiga instrumen peringatan dini tsunami tersebut berkerja secara bersamaan.
"Jadi pas ada gempa, seismograf bekerja, dikonfirmasi sama buoy yang ada di tengah (mengapung) di laut. Betul tidak nih tsunami mau datang. Jika iya kita bisa mengeluarkan peringatan dini, kemudian jika gelombang sudah sampai di darat, akan ada laporan berapa tinggi gelombang dan semcamnya," ucap dia.
Oleh sebab, itu ke depan pihaknya bakal mengubah teknologi buoy. Buoy ke depan bakal menggunakan kabel di bawah laut sehingga tidak lagi terapung untuk mengirim data ke daratan.
"Jadi sensornya ada di bawah laut. Dan kami memutuskan yang berbasis kabel. Tidak ada lagi buoy yang ngapung. Sensor yang di bawah laut tersambung kabel langsung ke darat," ucapnya.
Buoy Milik BPPT
Buoy yang saat ini terpasang diketahui milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) setelah mereka bekerjasama dengan banyak negara seperti Amerika, Jerman, Malaysia, serta Australia.
Namun, dikatakan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, buoy-buoy tersebut tidak terkoneksi dengan sistem peringatan dini tsunami punya BMKG.
Dulu, Dwikorita mengatakan sistem itu bakal dibuat terintegrasi, namun sampai kini belum juga terealisasi.
"Karena saat itu sedang dalam proses kajian, jadi belum masuk. Tapi kalau tide guide, sejak awal sudah terkoneksi. Jadi kalau buoy masih akan dikoneksikan ke BMKG. Tapi rencana itu belum sampai dilakukan," kata Dwikorita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT