Antisipasi Pencurian, Buoy Dibuat Pakai Kabel di Bawah Laut

CNN Indonesia | Selasa, 25/12/2018 13:30 WIB
Buoy yang berfungsi mendeteksi tsunami akibat gempa tektonik saat gelombang masih jauh dari bibir pantai malah hilang, beberapa rusak. Kampung nelayan Teluk Labuan, Pandeglang, Banten, porak poranda usai diterjang gelombang tsunami. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah telah membuat sistem peringatan dini dan meletakkannya di beberapa perairan rawan tsunami. Ada tiga komponen yaitu seismograf, tide guage, dan buoy.

Namun, buoy yang berfungsi mendeteksi tsunami akibat gempa tektonik saat gelombang masih jauh dari bibir pantai malah hilang, beberapa rusak, dan tidak sedikit yang sengaja dirusak. 
"Ada beberapa buoy yang kami temukan rusak dan dirusak, itu menyebabkan buoy tidak difungsikan," kata Deputi Bidang Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Ridwan Jamaludin di kantor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Senin (24/12).

Ia menyampaikan ada 12 buoy yang sudah terpasang sebelumnya. Padahal ketiga instrumen peringatan dini tsunami tersebut berkerja secara bersamaan.

"Jadi pas ada gempa, seismograf bekerja, dikonfirmasi sama buoy yang ada di tengah (mengapung) di laut. Betul tidak nih tsunami mau datang. Jika iya kita bisa mengeluarkan peringatan dini, kemudian jika gelombang sudah sampai di darat, akan ada laporan berapa tinggi gelombang dan semcamnya," ucap dia.

Oleh sebab, itu ke depan pihaknya bakal mengubah teknologi buoy. Buoy ke depan bakal menggunakan kabel di bawah laut sehingga tidak lagi terapung untuk mengirim data ke daratan.

"Jadi sensornya ada di bawah laut. Dan kami memutuskan yang berbasis kabel. Tidak ada lagi buoy yang ngapung. Sensor yang di bawah laut tersambung kabel langsung ke darat," ucapnya.

Buoy Milik BPPT

Buoy yang saat ini terpasang diketahui milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) setelah mereka bekerjasama dengan banyak negara seperti Amerika, Jerman, Malaysia, serta Australia.
Tapi buoy tersebut buatan sendiri, jadi bukan membeli dari pihak lain.

Namun, dikatakan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, buoy-buoy tersebut tidak terkoneksi dengan sistem peringatan dini tsunami punya BMKG.

Dulu, Dwikorita mengatakan sistem itu bakal dibuat terintegrasi, namun sampai kini belum juga terealisasi. 

"Karena saat itu sedang dalam proses kajian, jadi belum masuk. Tapi kalau tide guide, sejak awal sudah terkoneksi. Jadi kalau buoy masih akan dikoneksikan ke BMKG. Tapi rencana itu belum sampai dilakukan," kata Dwikorita.


(ryh/dea)