Kisah Bayi Korban Tsunami Selamat Setelah Tertimbun 11 Jam

CNN Indonesia | Rabu, 26/12/2018 15:47 WIB
Kisah Bayi Korban Tsunami Selamat Setelah Tertimbun 11 Jam Korban bayi yang selamat dari terjangan tsunami di Lampung. (CNN Indonesia/Zai Bento)
Lampung, CNN Indonesia -- Bayi perempuan berusia 1 bulan yang diberi nama Novalika Azkia Putri alias Nova selamat dari terjangan gelombang tsunami Selat Sunda, Sabtu (22/12) malam lalu. Bahkan bayi mungil nan cantik ini sempat tertimbun runtuhan bangunan rumahnya selama 11 jam.

Anak bungsu dari pasangan Sanali Khasan (42) dan Sunenti (39), warga RT 2, Dusun 1, Desa Way Muli Timur, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan itu juga terlihat sehat saat ditemui di gubuk yang menjadi tempat pengungsian bersama kerabat dan warga lainnya di kaki Gunung Rajabasa.

Sunenti tidak henti-hentinya terus memanjatkan rasa syukurnya kepada Allah lantaran ia masih diberikan keselamatan bersama buah hatinya yang belum lama ia lahirkan. Sunenti kemudian bercerita saat gelombang tsunami pertama datang menerjang, ia bersama suaminya sudah berusaha menyelamatkan diri.



Namun belum sempat berlari menjauh sembari menggendong bayinya, tiba-tiba datang hantaman gelombang tsunami kedua dan langsung memporak-porandakan rumah mereka hingga rata dengan tanah.

"Saat itulah saya dan bayi saya ini terseret gelombang ombak, lalu tertimpa reruntuhan bangunan rumah," ucapnya dengan mata berkaca-kaca, Rabu (26/12).

Mendekap putri bungsunya, ia tetap berusaha untuk sadar di bawah reruntuhan bangunan rumahnya selama 11 jam dan dalam kondisi terendam air. Ia baru berhasil diselamatkan dan dievakuasi oleh tim, keesokan harinya Minggu (23/12) sekitar pukul 08.00 WIB.

"Saya terus memeluk buah hati saya ini, supaya jangan sampai terlepas karena ada lagi hantaman gelombang tsunami," ujarnya.

Dampak tsunami Selat Sunda di Banten. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Selama terperangkap, ia tidak henti-hentinya melantunkan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW dan memanjatkan doa bermunajat meminta pertolongan kepada sang pencipta.

Sementara suaminya Sanali mengatakan istri bersama kedua anaknya sudah berusaha lari lebih dulu, sedangkan dia saat itu masih berada di dalam rumah. Ketika sudah berada di luar rumah, gelombang tinggi itu datang lagi dan ia berhasil lolos namun istri dan kedua anaknya terpental dan kembali lagi di dalam rumah.

"Begitu hantaman gelombang kedua istri dan anak saya terpental, tapi posisi bayi saya masih dalam dekapan ibunya," kata dia.


Karena tingginya gelombang yang menghantam rumahnya, Sanali berusaha lari menuju ke daratan lebih tinggi. Setelah ombak sudah mulai surut, dengan penuh rasa was-was ia berusaha kembali ke rumahnya yang ternyata sudah hancur semuanya rata dengan tanah.

"Saya benar-benar syok dan berusaha mencari istri dan kedua anak saya. Tapi yang baru ketemu, anak laki-laki saya dan alhamdulillah selamat meski mengalami luka-luka ringan," ucapnya.

Keyakinan bahwa istri dan bayinya itu masih hidup, membuat Sanali tidak putus asa terus berusaha mencari dengan dibantu kerabatnya yang juga selamat dalam peristiwa itu. Pencarian itu membuahkan hasil setelah ia mendengar suara tangisan putri bungsunya yang masih bayi di balik reruntuhan bangunan rumahnya.

"Dengar suara tangisan itu menandakan keajaiban itu benar ada dan semua ini kuasa dari Allah SWT," ujar dia.


Saat ditemukan, istri dan bayinya sudah bermandikan lumpur. Karena keterbatasan alat, evakuasi keduanya berlangsung lama. Kurang lebih satu jam proses evakuasi, istri dan bayinya baru berhasil diangkat dari reruntuhan bangunan.

"Istri saya hanya mengalami luka ringan di tangan dan kakinya. Sedangkan putrinya bungsu saya sama sekali tidak mengalami luka sedikit pun," katanya.

Setelah tubuhnya dibersihkan dari lumpur, keduanya langsung dilarikan ke RSUD BOB Bazar Kalianda untuk mendapatkan perawatan medis.

Korban tsunami Selat Sunda di Lampung. ANTARA FOTO/Ardiansyah

Hingga hari ini, ia bersama istri dan keduanya anaknya masih memilih mengungsi di atas lereng kaki Gunung Rajabasa, tepatnya di gubuk milik warga bersama kerabat. Pada hari kedua setelah bencana, ia mengaku kekurangan stok bahan makanan, selimut, pakaian dan popok perlengkapan bayi.

Namun di hari ketiga bantuan datang dari anggota dewan DPRD Banten dan beberapa tim dari partai politik.

Bencana gelombang tsunami yang ditengarai akibat terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK), telah menewaskan ratusan korban jiwa dan meluluhlantakkan bangunan rumah mereka. Desa yang terdampak paling parah dalam peristiwa gelombang tsunami di Lampung adalah Desa Way Muli, Way Muli Timur dan Kunjir.

(zas/DAL)