"Tetap saja, dengar suara itu saya masih takut banget," kata Tanti, Kamis (27/12).
Tak hanya itu, bunyi sirene kendaraan yang lalu-lalang di sepanjang jalan saja mampu menimbulkan ketakutan yang sama di benak Tanti. Hal seperti ini tidak sedikit yang turut mengalaminya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pusing saya, bikin takut semuanya," ucap Ati.
Kendati demikian, hingga saat ini Tanti dan Ati tidak punya banyak pilihan. Kalaupun mereka harus menahan diri dari suara-suara yang memicu ketakutan, mereka hanya bisa berdiam diri di dalam posko.
"Bingung mau kemana lagi, enggak ada kepastian. Cuma bisa di sini saja sambil menunggu kabar," ucap Tanti.
Selain trauma warga atas bunyi-bunyian, banyaknya kabar simpang-siur mengenai tsunami susulan juga jadi masalah. Sebuah teriakan saja sudah cukup memancing efek berantai rasa panik dan takut penduduk setempat. Padahal informasi itu kerap kali nyatanya belum terkonfirmasi ke instansi terkait.
"Duh di sini kejadiannya setiap hari. Baru kemarin saya ikut lari, padahal enggak ada apa-apa juga," kata Yulis, salah seorang pedagang di kawasan Labuan.
Maraknya informasi sesat di lokasi bukan hal baru di masyarakat yang terkena dampak bencana. Belum lama, kabar mengenai potensi tsunami susulan di Banten dan beberapa daerah lain termasuk Jakarta ramai beredar di internet.