"Saya memang usul jangan buru-buru dulu menurunkan siaga tsunami itu. Karena kami lihat dulu, tadinya hari ini mau dilihat lagi citra satelit dengan drone tapi apakah drone ini pagi atau sore ini bisa terbang atau tidak karena cuacanya," kata Luhut di kantornya, Jakarta, Kamis (27/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan status gunung itu terjadi empat hari setelah tsunami Selat Sunda terjadi pada Sabtu (27/12).
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
"Karena hujan dan tremor, tremornya itu tadi malam dilaporikan masih ada 3,2, dan 2,9 Skala Richter. Akibat tremor ini apakah tanah bisa longsor lagi atau tidak karena ada hujan dan angin. Kelihatannya kalau misal itu terjadi bisa lebih besar dari yang 64 hektare kemarin. Apakah lebih besar atau lebih kecil atau tidak sama sekali," tutur dia.
Dia juga meminta masyarakat tidak terlalu khawatir terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sebab pada prinsipnya Indonesia berada di wilayah cincin api (ring of fire) yang dikelilingi oleh gunung berapi aktif, termasuk Gunung Anak Krakatau.
"Kalau khawatir juga kita semua khawatir. Karena kita kan juga hidup di ring of fire jadi tidak ada perlu kita khawatir lebih, yang penting kesiagaan kita menghadapi itu," ujar Luhut.
Kendati begitu, lanjut Luhut, masyarakat perlu tetap siaga dan bersiap menghadapi kemungkinan yang ada.
Sebelumnya, Vulkanolog Surono mengungkap belum ada tanda-tanda Gunung Anak Krakatau akan mengalami letusan sedahsyat ibunya pada 1883 yang mengakibatkan 36 ribu orang kehilangan nyawanya dan mengakibatkan tsunami hingga puluhan kilometer, hingga memengaruhi iklim dunia.
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, 26 Desember. (STR / AFP) |
"Paling [parah dampaknya] longsor menimbulkan tsunami. Maksimum radius 5 km dari letusannya, di luar itu bisa joget," ujar pria yang kerap disapa Mbah Rono itu saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (27/12).
(sah/arh)
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, 26 Desember. (