Pengungsi Tsunami di Pandeglang Alami Sesak Napas dan Diare

CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 17:07 WIB
Pengungsi Tsunami di Pandeglang Alami Sesak Napas dan Diare Ilustrasi pengungsi Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Pandeglang, CNN Indonesia -- Pengungsi tsunami Selat Sunda dan status siaga Anak Krakatau di Posko Induk Kementerian Sosial, Pandeglang, Banten mengalami gangguan pernapasan dan pencernaan.

Kondisi pengungsian yang padat disinyalir membuat penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) semakin mudah menular.

"Tempat pengungsian yang padat, bisa saja kondisi tubuh menurun, terus sudah membawa penyakit flu, batuk, pilek. Kan, penularannya lewat lewat droplet (percikan air liur)," kata Syilvianti, salah seorang relawan, saat ditemui CNNIndonesia.com di Posko Induk Kementerian Sosial, Pandeglang, Jumat (28/12).



Selain itu, pengungsi juga mengalami gangguan pencernaan atau gastritis, seperti sakit perut hingga diare.

Kondisi pengungsian yang kurang higienis dinilai jadi penyebab utama. Lokasi posko ini berada di lapangan futsal.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, kondisi pengungsian padat dan kotor. Bahkan, bau tak sedap begitu menyengat sedari gerbang masuk.

"Kemungkinan kondisi air, higienisitas pasien juga bisa. Kemarin hujan deras, mungkin PHBS (pola hidup bersih dan sehat) kurang, sebelum makan tidak cuci tangan jadi terkontaminasi, apalagi ramai," ucap salah seorang relawan Adhi Nugroho kepada CNNIndonesia.com, Jumat (28/12).


Hingga hari ini, posko kesehatan sudah menerima 318 pasien. Selain gangguan pernapasan dan pencernaan, penyakit yang dialami pengungsi ialah hipertensi dan gatal-gatal. Depresi juga melanda para pengungsi.

Adhi melanjutkan selain pelayanan kesehatan fisik, para pengungsi juga membutuhkan pelayanan kesehatan psikis.

"Tadi ada yang cerita mengeluh dada berdebar-debar. Tapi sebenarnya jantung dan sebagainya bagus, cuma ke arah depresi ya," ucap Adhi.

Di pengungsian ini ada dua posko kesehatan yang didirikan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan BNI Life/Kimia Farma.

Mereka menyediakan pelayanan kesehatan layaknya poliklinik. Di sana pengungsi bisa mengecek kesehatan dan mendapatkan obat. Jika dibutuhkan, mereka bakal dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Pengungsi Tsunami di Pandeglang Alami Sesak Napas dan DiareAnak-anak pengungsi terdampak tsunami selat sunda menikmati hiburan badut di Posko Pengungsian Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Serupa di Pandeglang, kondisi sakit pun dialami para pengungsi di Teluk Kiluan, Lampung. Seperti dikutip dari Antara, puluhan warga Teluk Kiluan, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung yang mengungsi di perbukitan setempat mulai terserang bermacam-macam penyakit.

Menurut Kasi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanggamus Cahyo Dwi Nugroho umumnya warga yang terdampak penyakit itu adalah darah tinggi dan badan panas dingin akibat kekurangan waktu istirahat.

"Bapak-bapak di pengungsian yang paling banyak terkena penyakit ini," katanya lagi.

Ia menjelaskan kaum pria yang masih was-was dan khawatir akan tsunami setiap malam kerap begadang dan berjaga hingga pagi hari untuk mengawasi lingkungan sekitar.

Cahyo mengatakan untuk penyakit-penyakit berat yang menyerang warga pengungsian, pihaknya sampai saat ini belum menemuinya dan belum mendapat laporan dari pihak terkait.

"Untuk penyakit malaria kami belum menemukannya," katanya pula.

Dia mengatakan, timnya dan pihak medis/Dinas Kesehatan setiap hari selalu berkeliling mengecek kondisi para pengungsi di sini.

Sebelumnya, tsunami di Selat Sunda menyapu kawasan pesisir di Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12). Hingga saat ini 426 korban meninggal dunia, sedangkan 23 orang masih hilang.

Total korban luka-luka saat ini mencapai 7.202 orang dan sebanyak 40.386 orang mengungsi.
(dhf/pmg)