Jelang Pilpres, Polri Ingatkan Masyarakat Tak Terpecah Belah

CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 02:27 WIB
Jelang Pilpres, Polri Ingatkan Masyarakat Tak Terpecah Belah Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengungkapkan ada potensi terpecahnya masyarakat menjadi dua kubu menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Perpecahan ini kemudian diperparah dengan banyaknya perbedaan mulai dari suku, agama, ras, dan antar golongan.

"Jelang Pilpres, polarisasi adalah hal wajar. Suhu politik memanas akan mengakibatkan disintegrasi. Kalau kita menunjukan perbedaan yang ada banyak sekali, ini akan menjadi cikal bakal hingga terjadinya perpecahan," Kepala Satgas Nusantara Polri Irjen Gatot Edi dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2018 Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) di Jakarta Selatan, Minggu (30/12).

Dia menyebut konsep Bhinneka Tunggal Ika harus diusung menjelang pesta demokrasi berkasta tertinggi di Indonesia tersebut. Menurut dia, konsep tersebut akan mempersatukan perbedaan yang ada.



"Seharusnya dari perbedaan yang ada kita angkat kebersamaan yang ada. Nah ini yang akan mempersatukan kita ke depan untuk menjadi negara yang besar dan maju," ujar Gatot.

Ia mengatakan potensi pasangan calon untuk melakukan kampanye hitam sangat besar, dan bisa berpeluang menimbulkan disintegrasi di lapisan masyarakat.

"Kalau adu program itu tidak apa apa, tapi tidak menutup kemungkinan akan terjadi kampanye hitam dengam isu SARA. Bisa terjadi gesekan hingga disintegrasi," kata Gatot.


Kebersamaan ini, menurut Gatot, harus dijaga demi menjaga Indonesia sebagai satu negara besar. Gatot mengatakan Indonesia sudah memiliki tiga modal utama untuk menjadi negara besar. Indonesia telah memenuhi tiga syarat untuk menjadi negara besar.

Pertama, jumlah penduduk Indonesia yang besar dengan jumlah penduduk 267 juta jiwa. Saat ini Indonesia berada pada peringkat keempat negara dengan jumlah penduduk terbesar.

Kedua, keberadaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Hal ini bisa membuka lapangan kerja asalkan SDM Indonesia memiliki kualitas yang mumpuni. Ketiga adalah luas wilayah Indonesia.


"Jumlah populasi kita yang besar. Ini merupakan mesin produksi yang bisa menggarap sumber daya yang kita miliki," kata Gatot. (jnp/lav)