Cerita Megawati Soal Prabowo Kangen Nasi Goreng Masakannya

CNN Indonesia | Senin, 07/01/2019 18:54 WIB
Cerita Megawati Soal Prabowo Kangen Nasi Goreng Masakannya Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa persahabatannya dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto tetap baik meski berbeda pandangan politik.

Megawati menyampaikan hal itu saat berpidato di hadapan puluhan kelompok milenial dalam acara 'Megawati Bercerita' di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Senin (7/1).

"Dengan Pak Prabowo saya kan tetap temenan, kok. Tapi kok anak buahnya gitu ya? Padahal saya sama bosnya enggak ngapa-ngapain," kata Megawati.


Mega, sapaan akrab Megawati lantas bercerita momen ketika dirinya, Prabowo, dan Presiden Joko Widodo bertemu saat menyaksikan pertandingan pencak silat di Asian Games di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Peristiwa itu terbilang berkesan dan mendapat sorotan luas karena diwarnai aksi pelukan Prabowo dan Jokowi.

Mega bercerita soal persiapan Prabowo ketika mengetahui akan bertemu dirinya dan Presiden Jokowi.

Kala itu, ungkap Mega, Prabowo sampai rela berganti pakaian demi menghormati kehadiran dirinya dan Jokowi.

Mega mengatakan Prabowo mengganti pakaiannya dari kemeja safari cokelat menjadi pakaian silat plus kopiah hitam.

"Bayangkan Pak Prabowo, kan, diberitahu kalau Bu Mega mau datang, kata dia 'wah saya kan menghormati beliau, saya harus ganti pakaian dulu'," kata Mega menirukan ucapan Prabowo.

Di momen yang sama Mega turut bercerita bahwa anak bengawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo itu diam-diam kerap merindukan nasi goreng masakannya.

Tak hanya Prabowo, Mega berseloroh nasi goreng buatannya disukai oleh banyak orang.

"Dulu juga Gus Dur telepon, 'mbak aku teko yo, nasi goreng nasi goreng' dia mesti minta nasi goreng, itu saya bikin sendiri," tambahnya.

Atas hubungan baik itu Mega menegaskan bahwa seorang pemimpin harus tetap bersahabat meski berbeda pandangan politik.

Mega melihat kondisi perpolitikan Indonesia saat ini seperti ingin memecahbelah masyarakat. Padahal, kata dia, politik itu justru untuk merekatkan masyarakat demi kemajuan bangsa dan negara.

"Sekarang kok kayaknya mau membelah diri, yang sono yang sini, sebetulnya mau jadi apa ya? Sekarang kok pemilu kayak mau dibikin gimana ya? Kita harusnya tahu, ini demi bangsa dan negara, loh," kata dia (wis)