Sengkarut Pertanyaan untuk Para Paslon dalam Debat Pilpres

CNN Indonesia | Kamis, 10/01/2019 09:23 WIB
Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto (kiri) akan kembali menghadapi lawan politiknya pada Pilpres 2014, politikus PDIP Joko Widodo (kanan) dalam Pilpres 2019. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memberi bocoran pertanyaan debat calon presiden-calon wakil presidendi Pilpres 2019 menuai pro kontra seminggu belakangan.

Soal kisi-kisi pertanyaan yang diserahkan penyelenggara pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU), kepada para paslon menjadi perdebatan. Rencananya bocoran 20 pertanyaan itu dikirimkan kepada para paslon sepekan sebelum debat pilpres digelar. Meskipun begitu, nantinya pada hari-H, masing-masing paslon hanya menghadapi tiga pertanyaan.

Setelah pada Sabtu (5/14), Ketua KPU Arief Budiman mengumumkan itu sebagai hasil kesepakatan dalam rapat pleno bersama dua tim sukses dua paslon peserta pilpres, perdebatan pun terjadi di antara dua kubu tersebut mengenai siapa yang memesan agar kisi-kisi soal debat itu diberikan penyelenggara pemilu.



Agar tak semakin larut, KPU mengundang kembali Tim Kemenangan Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk meluruskan isu miring tersebut dalam rapat tertutup pada awal pekan ini. Dalam rapat itu terlihat TKN diwakilkan Aria Bima dan Lukman Edy. Sementara BPN diwakilkan Priyo Budi Santoso dan Ferry Mursyidan Baldan.

KPU menegaskan kembali bahwa keputusan membocorkan soal diambil setelah pembicaraan bersama yang dilakukan dalam rapat pleno pada 28 Desember 2018. Pada rapat di pengujung 2018 itu, TKN diwakili beberapa orang, salah satunya Direktur Program dan Kampanye Aria Bima. Begitupun BPN yang mengutus pewakilan, di antaranya Wakil Ketua Priyo Budi Santoso.

"Kami ambil putusan itu karena kami menerima masukan masing-masing paslon. Pesan penting kami tidak ingin ada paslon yang dipermalukan atau diserang karena pertanyaan yang sangat teknis dan tidak substansif," kata Ketua KPU Arief Budiman usai pertemuan di Kantor KPU, Senin (7/1) malam.

Meski begitu, Arief tidak mau mengungkap siapa pihak yang pertama mengusulkan ide itu.

KPU meminta perwakilan yang ikut rapat keputusan bocoran pertanyaan untuk meluruskan ke tim masing-masing. Disebutnya perwakilan dua kubu itu pun berjanji bakal meluruskan isu tersebut.

Namun, sengkarut bocoran pertanyaan debat capres masih terus bergulir. Sehari setelahnya, dalam diskusi di Kantor Bawaslu, TKN dan BPN masih beradu mulut soal pihak mana yang sebetulnya memesan bocoran soal tersebut.

Setelah selalu menolak, Juru Bicara BPN Andre Rosiade dalam kesempatan itu menyebut pihaknya mendukung ide baru KPU. Alasannya, kata pria yang juga dikenal sebagai Wasekjen Gerindra itu, ada potensi KPU tidak netral dan membocorkan soal ke Jokowi yang notabene petahana.

"Bukan menuduh, tapi indikasi. Kami ingin mendapat perlakuan yang sama antara 01 dan 02, akhirnya kami menyetujui kisi-kisi dibagikan. Agar tidak dibocorkan lagi seperti di tahun 2014," kata Andre.


Pada kesempatan yang sama, Juru Bicara TKN Ace Hasan Syadzily langsung menanggapi hal tersebut. Politikus Golkar itu berpendapat pernyataan Andre justru telah mengonfirmasi bahwa BPN sebagai pihak yang meminta KPU memberi bocoran pertanyaan.

"Jadi yang minta nyontek itu sebetulnya kubu sebelah, tidak benar kalau kami yang meminta. Karena mereka punya dugaan, tadi kita dengar sendiri Andre Rosiade mengatakan bahwa mereka menuduh KPU 2014 membocorkan pertanyaan ke Pak Jokowi," tuding Ace.

Hingga saat ini, KPU belum mengubah keputusannya tersebut. Jika sesuai jadwal, bocoran pertanyaan akan dilayangkan ke masing-masing tim sukses setidaknya hari ini, sepekan sebelum debat perdana pada 17 Januari 2019.

Sudah ada debat soal kisi-kisi, ada lagi hal lain. Baca di halaman berikutnya...

Untung-Rugi Bocoran Debat

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2