TKN Jokowi-Ma'aruf Imbau soal Satgas Novel Tak Dipolitisasi

CNN Indonesia | Minggu, 13/01/2019 08:05 WIB
TKN Jokowi-Ma'aruf Imbau soal Satgas Novel Tak Dipolitisasi Novel Baswedan (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Tim Kemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin Moeldoko mengimbau masyarakat untuk tidak berpikir negatif soal pembentukan satuan tugas kasus Novel Baswedan. Ia meminta masyarakat tidak berpikir bahwa pembentukan satgas oleh pihak kepolisian ini sebagai soal politik belaka.

"Saya pikir harus dihargai dong, jangan terus 'itu politik', jangan buru-buru ke sana," ujar Moeldoko usai acara deklarasi GK Pengusaha Jokowi di D'Cost VIP, Jakarta Pusat, Minggu (13/1).

Hal ini diungkap menanggapi anggapan bahwa dibentuknya tim penyelidikan ini terkait jelang debat Pilpres 2019 pada 17 Januari. Debat perdana itu akan mengangkat tema hukum, hak asasi manusia, korupsi, dan terorisme. Aktivis hak asasi manusia Haris Azhar mengungkap kekhawatirannya tim ini dibuat untuk menyediakan jawaban buat Jokowi saat debat.


Selain itu, menurut Moeldoko, pembentukan satgas khusus itu tak ada hubungannya jelang debat perdana Pilpres 2019. Sebab, kasus yang menimpa salah satu penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu hanya sekadar kasus kriminal.

"Ini hanya peristiwa kriminal, hanya siapa pelakunya itu saja. Jadi tolong ini masyarakat menjustifikasinya (mempertimbangkannya) yang tepat," tuturnya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada Jumat (11/1) lalu menerbitkan surat tugas untuk membentuk tim gabungan dan penyidikan untuk kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

Tito menunjuk Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Idham Azis sebagai ketua tim. Ia didukung Karobinops Bareskrim Polri Brigjen Pol Nico Afinta sebagai wakil ketua tim.

Surat tugas bernomor Sgas/3/I/HUK.6.6./2019 sudah ditandatangani oleh Tito pada 8 Januari 2019. Diketahui setidaknya ada 65 nama yang masuk dalam tim gabungan tersebut. Dilibatkan pula anggota Densus 88 Antiteror Polri serta tim dari KPK.

Tim pakar pun dilibatkan dalam tim khusus itu, yang terdiri dari mantan wakil ketua KPK Indriyanto Seno Adji, peneliti utama LIPI Hermawan Sulistyo, Ketua Setara Institute Hendardi, Komisioner Kompolnas Poengky Indarti.

Selain itu, mantan Komisioner Komnas Ham Nur Kholis dan eks ketua Komnas HAM yang kini dikenal sebagai Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ifdhal Kasim turut andil dalam tim khusus itu.

Pada 11 April 2017, salah satu penyidik KPK Novel Baswedan mendapat serangan berupa siraman air keras ke wajahnya. Saat itu, Novel baru saja menunaikan salat Subuh di masjid dekat rumahnya dan mengakibatkan mata kiri Novel rusak.

Pihak kepolisian pun telah menyebarkan sketsa pelaku yang diduga menyiramkan air keras kepada Novel. Namun, sampai hari ini, belum ada titik terang siapa pelaku di balik kasus Novel Baswedan tersebut. (din/eks)