Analisis

Amunisi Serangan Balik Jokowi Berujung Blunder untuk Prabowo

CNN Indonesia | Jumat, 18/01/2019 11:53 WIB
Amunisi Serangan Balik Jokowi Berujung Blunder untuk Prabowo Dalam debat capres perdana, Kamis (17/1), Jokowi dinilai lebih banyak menyerang, ketika Prabowo terus bertahan. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon Presiden Nomor Urut 01 Joko Widodo cenderung ofensif dalam debat capres perdana Kamis (17/1) malam. Sang petahana berulang kali berbicara dengan intonasi yang tegas kala menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap komentar Prabowo Subianto.

Jokowi juga menyerang Prabwowo dengan kasus atau isu tertentu dan mengaitkannya dengan aspek hukum. Salah satunya ketika mantan wali kota Solo itu menyinggung isu hoaks Ratna Sarumpaet. Jokowi juga sempat menyerang Prabowo soal caleg napi koruptor dan keterwakilan perempuan di Partai Gerindra.

Monica Kumalasari, pakar bahasa tubuh berbasis sains juga mengamini Jokowi tampil tak biasa, lebih terlihat tegas melalui verbal maupun gesturnya. Berbanding terbalik, Prabowo tampil kebih kalem, smooth, meski satu dua momen mantan danjen kopassus itu menunjukan sisi emosionalnya.


Pengamat politik Universitas Padjadjaran Firman Manan mencoba maklum dengan penampilan Jokowi yang tidak seperti biasanya. Capres petahana itu dinilai lebih menyerang dan bahkan lebih agresif daripada Prabowo yang merupakan capres penantang.


Meski begitu, Firman yakin serangan yang ditujukan kepada Prabowo bukan hasil buah pikir Jokowi saat debat berlangsung. Dia memprediksi serangan-serangan Jokowi memang sudah disiapkan oleh Tim Kampanye Nasional (TKN).

"Tentu saja debat sekelas debat capres-cawapres tentu disiapkan dengan matang. Ada simulasi, coaching. Saya sulit membayangkan, dalam debat, para kandidat dibiarkan begitu saja improvisasi," kata Firman saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (18/1).

Firman mengatakan lazim jika publik tidak menyangka Jokowi akan begitu agresif. Terlebih, Jokowi adalah petahana yang notabene lebih suka defensif.


Akan tetapi, kekurangan capres 01 itu kerap tidak menjawab inti pertanyaan Prabowo. Jokowi hanya menanggapi pertanyaan Prabowo dengan melontarkan serangan balik. Hal itu diutarakan pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno.

"Dia (Jokowi) menyerang balik dengan kasus Ratna Sarumpaet tanpa menjawab apa yang ditanyakan Prabowo. Hal itu juga dilakukan saat menanggapi ASN yang mendukung salah satu paslon," ucap Adi.

'Gol bunuh diri' Prabowo

Di sisi lain, Prabowo menunjukkan sikap yang tergolong tidak sewajarnya sebagai capres penantang.

Adi menilai Prabowo memang nampak gusar ketika diserang dengan beberapa pernyataan dari Jokowi. Namun, menurut Adi, Prabowo seolah berusaha tidak terpancing. Adi menyebut hal itu merupakan nilai positif dari Prabowo dalam debat semalam.

Prabowo, menurutnya, nampak rileks dan terbiasa berdebat di tempat terbuka. Adi melihat itu dari gestur Prabowo yang tidak larut dalam serangan-serangan Jokowi.

Irama Serangan Petahana dan 'Gol Bunuh Diri' PrabowoPrabowo Subianto. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Meski begitu, bukan berarti Prabowo luput dari kekurangan. Adi mengatakan Prabowo justru sempat melakukan blunder yang cukup parah, seperti ketika menyebut Jawa Tengah memiliki wilayah lebih luas dibanding Malaysia.

Diketahui, Prabowo sempat mengatakan mengatakan wilayah Jawa Tengah lebih luas daripada Malaysia. Dia mengutarakan hal tersebut kala menyinggung kecilnya gaji gubernur Jawa Tengah.

"Debat semalam itu, kalau dinilai skornya 1-0. Itu karena gol bunuh diri yang dibuat Prabowo. Bukan gol yang dibuat Jokowi," kata Adi.

Prabowo juga seolah tidak fokus ketika Jokowi menyoroti banyaknya eks napi koruptor yang menjadi caleg Gerindra, partai yang diketuai Prabowo.

Tidak ketinggalan, Prabowo pun kembali mengungkapkan informasi yang keliru. Dia mengatakan Gerindra memiliki caleg perempuan dengan presentasi terbesar dibanding partai lain peserta Pemilu 2019. Namun nyatanya, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang memiliki caleg perempuan terbesar.

"Pertanyaan-pertanyaan ofensif itu seharusnya dijawab dengan argumentasi berdasarkan data. Sayangnya, Prabowo tidak memanfaatkan itu dengan baik," ucap Adi.

(bmw/ain)