Material Longsor Krakatau Pemicu Tsunami Capai 80 Juta Ton

CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 03:59 WIB
Material Longsor Krakatau Pemicu Tsunami Capai 80 Juta Ton Gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut volume longsoran Gunung Anak Krakatau yang memicu tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu mencapai 80 juta meter kubik atau 80 juta ton. Kendati demikian, Badan Geologi belum menemukan penyebab longsor itu bisa terjadi.

Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi Badan Geologi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan memastikan bahwa longsor Gunung Anak Krakatau sebagai penyebab tsunami. Akan tetapi untuk menentukan kenapa longsor itu terjadi, Hendra dan pihaknya mengaku belum mendapat jawaban konkret.

"Jelas massa yang bergerak, hanya kenapa? Dulu-dulu kan sama kejadiannya," kata Hendra saat ditemui dalam seminar di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Senin (21/1).


Hendra menekankan bahwa Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api dengan aktivitas tinggi sejak lama sehingga kemungkinan longsor itu terjadi tak hanya pada malam nahas tersebut.

Ia menduga ada proses geologi lain yang akhirnya menyebabkan pergerakan massa dalam jumlah yang signifikan lalu memicu tsunami.

"Gempa bukan pertama kali, meletus bukan pertama kali, tremor bukan pertama kali. Hanya kenapa pas hari itu? Itu masalahnya," imbuhnya.

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada pertengahan Desember kemarin terbukti sangat menghancurkan. Ada 80 juta meter kubik atau 80 juta ton material jatuh ke laut. Volume itu berarti setara dengan 288 ribu unit pesawat Airbus A380-800. Diketahui berat Airbus A380-800 kosongan atau tanpa penumpang sekitar 28 ton.

Akibat kejadian itu morfologi gunung pun banyak berubah sehingga ketinggian gunung yang tadinya 388 meter di atas permukaan laut, sekarang tinggal 110 meter saja.

Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar mengatakan secara terpisah bahwa potensi bahaya Gunung Anak Krakatau saat ini sudah berangsur normal meski masih berstatus Level III atau Siaga.

"Dari efeknya, kasarnya ada kekuatan yang sangat besar pun mungkin tidak akan sebesar yang terjadi kemarin," tandas Rudy. (bin/osc)