Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi Badan Geologi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan memastikan bahwa longsor Gunung Anak Krakatau sebagai penyebab tsunami. Akan tetapi untuk menentukan kenapa longsor itu terjadi, Hendra dan pihaknya mengaku belum mendapat jawaban konkret.
"Jelas massa yang bergerak, hanya kenapa? Dulu-dulu kan sama kejadiannya," kata Hendra saat ditemui dalam seminar di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Senin (21/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menduga ada proses geologi lain yang akhirnya menyebabkan pergerakan massa dalam jumlah yang signifikan lalu memicu tsunami.
Erupsi Gunung Anak Krakatau pada pertengahan Desember kemarin terbukti sangat menghancurkan. Ada 80 juta meter kubik atau 80 juta ton material jatuh ke laut. Volume itu berarti setara dengan 288 ribu unit pesawat Airbus A380-800. Diketahui berat Airbus A380-800 kosongan atau tanpa penumpang sekitar 28 ton.
Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar mengatakan secara terpisah bahwa potensi bahaya Gunung Anak Krakatau saat ini sudah berangsur normal meski masih berstatus Level III atau Siaga.
"Dari efeknya, kasarnya ada kekuatan yang sangat besar pun mungkin tidak akan sebesar yang terjadi kemarin," tandas Rudy. (bin/osc)